Dominikan Pontianak dan Surabaya

Para imam dan frater Dominikan (Ordo Pewarta, OP) Indonesia yang sedang menjalankan formasi di Indonesia dan di Filipina, kecuali para novis, baru-baru ini bertemu di Surabaya dan menetapkan visi dan misi pertama untuk misi Dominikan Indonesia.

Ordo Dominikan pernah hadir di Indonesia sejak 1551 hingga 1769, dan formatio para calon Dominikan pertama kali untuk para calon dari Indonesia dimulai di Filipina tahun 1996 dan tahbisan imam Dominikan dari Indonesia pertama terjadi tahun 2006.

Setelah lebih dari 10 tahun berkarya di Indonesia, demikian informasi yang diterima PEN@ Katolik, mereka merasa sudah waktunya menetapkan arah yang lebih jelas dan yang dapat mengilhami dan membimbing kedua rumah mereka di Indonesia, yakni Rumah Santo Dominikus di Pontianak dan Rumah Santo Thomas Aquino di Surabaya.

Oleh karena itu mereka mengundang beberapa pembicara untuk memberikan masukan dan setelah berbagi, para peserta pertemuan di  Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, 19-20 Desember 2017 itu menetapkan bahwa pada pesta perak perayaan kembalinya komunitas Dominikan di Indonesia, mereka akan mewujudkan kehadiran “komunitas Dominikan yang setia, relevan dan stabil” sebagai visi bersama.

Terinspirasi oleh cinta kasih Bapa Suci Santo Dominikus bagi Gereja, sebagai komunitas Dominikan Indonesia mereka menetapkan “mengontemplasikan dan mewartakan Kebenaran di dalam konteks kebinekaan, serta berjuang untuk ikut serta dalam kemajuan yang menyeluruh bagi Gereja dan masyarakat Indonesia” sebagai misi mereka.

Selain Promotor Misi Pastor Joemar Sibug OP, pertemuan bertema “Biarawan Dominikan sebagai Pelayan Gereja di Indonesia dari 2018 ke Masa Depan” itu menghadirkan antara lain Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono dan Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Siprianus Hormat Pr, Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Doinikus di Indonesia Suster Anna Marie OP, dan presiden atau pimpinan Chapter Dominikan Awam Chapter Santo Thomas Aquinas Surabaya Welem Elimkusuma OP.

Mgr Agus mengingatkan bahwa melalui inisiatif delapan uskup Kalimantan, para Dominikan dapat memulai kembali misinya setelah para Dominikan Portugis meninggalkan Indonesia di abad ke-17. “Biarawan Dominikan diundang terutama untuk membantu pembentukan intelektual para imam dan masyarakat melalui keterlibatan di Seminari Tinggi Antarkeuskupan di Kalimantan,” kata uskup agung itu.

Sementara itu Mgr Wisaksono menceritakan bahwa devosinya kepada Our Lady of Manaoag telah menuntunnya ke sebuah keputusan untuk membawa Dominikan ke keuskupannya. Namun, Uskup Surabaya itu sepakat dengan Mgr Agus bahwa “misi intelektual harus menjadi andalan utama Dominikan di Surabaya, di Pontianak dan di Indonesia.” Kedua uskup itu menyatakan akan terus melanjutkan dukungan mereka bagi para Dominikan di keuskupannya masing-masing.

Setelah menguraikan situasi dan tantangan yang dihadapi Gereja di Indonesia saat ini serta menekankan konteks Indonesia sebagai masyarakat majemuk dan kenyataan bahwa Gereja Katolik tetap merupakan minoritas di banyak wilayah, Pastor Siprianus menantang para biarawan Dominikan untuk “memberikan kontribusi khusus dengan karisma Dominikan dalam membuat Gereja Indonesia selalu relevan dan signifikan.”

Suster Anna Marie OP berharap agar kolaborasi yang lebih kuat antara saudara laki-laki dan perempuan bisa terwujud di masa depan. Sementara itu, Welem Elimkusuma OP meminta dukungan lebih kuat dari para imam dan frater Dominikan bagi formasi Dominikan awam, “sehingga ke depannya kami bisa sungguh menjadi mitra dalam misi.”

Visi dan misi pertama untuk misi Dominikan Indonesia itu tak lepas dari bantuan Pastor Joemar Sibug OP, yang mengingatkan dalam homili Misa bahwa setiap misi adalah misi Tuhan sendiri, yang membantu peserta memusatkan perhatian pada pemahaman Provinsi Dominikan Filipina tentang misi, dan yang memberikan beberapa panduan penting tentang perumusan pernyataan visi misi.

Ketersediaan Maria adalah titik yang sangat penting bagi sejarah keselamatan, tegas wakil provinsi di Indonesia Pastor Edmund Nantes OP, seraya mengingatkan peserta dalam Misa penutup untuk “sepenuhnya bersedia ketika Tuhan memanggil untuk melakukan misi-Nya di Indonesia.” (Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP)

Tinggalkan Pesan