Cardinal Pietro Parolin

Dalam wawancara dengan Alessandro Gisotti dari Vatikan News seperti dilaporkan oleh Devin Watkins, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin menggambarkan bahwa tahun 2018 menjadi “perhatian khusus Gereja bagi harapan, tujuan, dan tantangan yang dihadapi kaum muda.”

Tanggal 21-26 Agustus 2018, lanjut kardinal itu, akan dilakukan Pertemuan Keluarga se-Dunia Dublin, Irlandia,  sebelum berlangsungnya  Majelis Biasa Sinode Para Uskup di Roma (Oktober 2918), yang fokusnya adalah “tentang Kaum Muda, Iman, dan Pilihan Hidup.”

Menurut Kardinal Parolin, aspek inovatif dan penting adalah “hubungan baru Gereja dengan kaum muda, yang terungkap dalam paradigma tanggung jawab, tanpa jenis paternalisme apa pun.”

“Gereja dan Paus meminta kaum muda … kontribusi apa yang dapat mereka berikan bagi Injil dan pewartaannya, saat ini!” kata kardinal itu..

Tentang seruan apostolik Amoris laetitia, Kardinal Parolin mengatakan bahwa dokumen itu “dihasilkan dari sebuah paradigma baru yang Paus Fransiskus lanjutkan dengan kebijaksanaan, kehati-hatian, dan kesabaran.” Kesulitan yang kini mengitari dokumen itu, “selain beberapa aspek isi, adalah karena perubahan sikap yang Paus minta dari kita,” lanjut kardinal.

Selain menjadi perhatian Gereja terhadap keluarga dan persoalan-persoalannya dalam dunia sekarang ini, dan sungguh-sungguh membantu menginkarnasikan Injil di dalam keluarga, yang sudah merupakan Injil: Injil keluarga, Kardinal Parolin yakin bahwa “Amoris laetitia juga merupakan ajakan bagi keluarga untuk ikut bekerja sama dan berkontribusi bagi pertumbuhan Gereja.”

Tentang reformasi Kuria, yang katanya “sudah mengambil beberapa langkah penting ke depan,” Kardinal Parolin menegaskan bahwa Paus Fransiskus lebih fokus “pada semangat lebih dalam yang harus menjiwai setiap reformasi Kuria, yang merupakan dimensi fundamental kehidupan Kristen, yaitu pertobatan.”

Sikap ini, kata kardinal, lebih diutamakan daripada “reformasi struktural, dengan promulgasi undang-undang baru, norma-norma, nominasi, dan lain-lain.”

Reformasi harus membuat Kuria Romawi menjadi “bantuan nyata bagi Paus untuk pewartaan Injil,” kata Kardinal Parolin seraya menegaskan bahwa dia akan mendesak dan bersikeras pada aspek itu.

Mengenai perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Chili dan Peru, kardinal itu mengatakan bahwa “Paus akan pergi sebagai Gembala Gereja universal untuk bertemu dengan gereja-gereja lokal … yang kini menghadapi berbagai tantangan akibat realitas dunia sekarang ini.”

Yang pertama, kata kardinal itu, “adalah tantangan bagi penduduk pribumi” yang mengacu pada Sinode Amazonia 2013 yang Paus Fransiskus adakan “tentang peran dan kontribusi penduduk ini dalam negara dan masyarakat mereka.”

Tantangan kedua adalah korupsi. “Topik yang sungguh dirasakan Paus dan kembali diungkapkan dengan bahasa sangat tajam adalah korupsi, yang menghambat pembangunan dan pengurangan kemiskinan dan kesengsaraan,” kata Kardinal Parolin.

Kardinal itu yakin, kunjungan itu tidaklah mudah, “tapi pasti akan sangat menyenangkan.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan