Mgr Agus Natal Bersama

Hidup penuh kedamaian menjadi dambaan setiap orang. Damai yang dikumandangkan para Malaikat lebih dari 2000 tahun lalu masih jauh dari kenyataan. Di dunia, bahkan di negara kita tercinta, Indonesia, suasana hidup penuh kedamaian masih terus-menerus harus diperjuangkan! “Tuhan, Pencipta kita memanggil kita untuk menjadi duta-duta perdamaian.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berbicara dalam kotbah Natal Bersama tingkat nasional yang dilaksanakan di Rumah Radakng, Pontianak, Kalimantan Barat, 28 Desember 2017.  “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”(Kol.3,15), kutip Mgr Agus.

Prelatus itu lalu menggambarkan kecemasan dewasa ini saat persatuan sebagai bangsa Indonesia terancam perpecahan. “Keresahan dan kecemasan ini semakin terasa tahun-tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak, yang dalam memperjuangkan kepentingannya, secara samar-samar atau terang-terangan tergoda untuk  menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus nasional dan salah satu pilar bangsa dan negara kita, yaitu Pancasila,” tegas uskup.

Persaingan politik yang tidak sehat dan menghalalkan segala cara, fanatisme yang sempit yang bahkan tak malu-malu menggunakan agama atau kepercayaan untuk memperjuangkan kepentingan diri atau kelompoknya diungkapkan uskup itu sebagai buktinya.

“Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih harus kita perjuangkan terus-menerus secara bersama-sama dengan orang-orang yang berkehendak baik,” tegas uskup.

Menurut Mgr Agus, lahirnya Tuhan Yesus ke dunia yang dirayakan hari itu merupakan bukti nyata bahwa Tuhan mau berdamai dengan umat manusia yang penuh dosa. “Kita semua, saya dan Anda! Kalau Tuhan yang karena kasih-Nya yang tanpa batas mau berdamai dengan kita, bagaimana kita membalasnya?! Apa yang pantas menjadi jawaban kita?!”

Karena dosa keangkuhan menguasai Adam dan Hawa yang bukan membalas kasih Tuhan melainkan mengingkari Tuhan bahkan ingin lebih Tinggi dari Tuhan, maka mereka  diusir dari firdaus. “Berapa banyak orang dewasa ini dikuasai oleh nafsu, tidak pernah puas, keangkuhan dan merasa diri mampu sehingga bukan hanya orang lain tidak dibutuhkan, tetapi Tuhan pun diabaikannya bahkan tidak dipedulikannya lagi,” tegas uskup.

Bahkan prelatus itu menegaskan, ada orang yang merasa hidup akhirat seakan-akan tidak ada dan hidup mereka seakan-akan tak dapat mati. “Kalau hidup kekal tidak ada, rugi saya jadi pastor! Rugi suster dan bruder hidup tanpa nikah!” kata Mgr Agus seraya menegaskan bahwa karena ada hidup kekal maka kaum berjubah mau hidup seperti itu.

Oleh karena itu, Mgr Agus mengajak umat Katolik dan umat Kristen untuk mawas diri. “Tuhan sudah mengulurkan tangan-Nya seluas-luasnya agar kita kembali ke pangkuan-Nya, agar kita memperoleh kembali Firdaus yang hilang, agar kita memperoleh hidup yang kekal.”

Itu bukan berarti  bahwa kita tidak boleh hidup enak didunia ini. “Tidak dilarang kita punya harta yang banyak, rumah atau mobil yang bagus, jabatan yang tinggi, istri yang cantik, dan suami yang ganteng. Yesus pun selama masa hidup-Nya tidak mau bahwa manusia menderita. Maka Yesus menyembuhkan banyak orang yang sakit, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang bisu berbicara, yang tuli mendengar, yang lapar dikasih makan, bahkan Lazarus yang mati dibangkitkan.”

Tetapi, lanjut uskup agung itu, “Yesus  mengingatkan bahwa makanan yang sesungguhnya adalah yang turun dari surga, diri-Nya sendiri, sehingga siapa yang percaya kepada-Nya akan hidup, tidak akan mati.

Tuhan sudah mengulurkan tangan sebesar-besarnya untuk berdamai dengan kita umat manusia yang penuh dosa ini!”

Maka, tidak ada jawaban atau jalan lain, tegas Mgr Agus, selain percaya kepada Yesus Sang Penyelamat, yang mendamaikan kita dengan Allah Bapa, Sang Pencipta. “Kalau Bapa Sang Pencipta mengulur tangan selebar-lebarnya untuk berdamai dengan kita, manusia yang penuh dosa ini, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk membalasnya dengan sikap untuk selalu siap sedia untuk berdamai dengan orang lain, dengan sesama, bahkan dengan sesama yang berbuat jahat kepada kita.”

Seraya menyadarkan umat Kristiani bahwa mereka dipanggil untuk merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan, Mgr Agus menegaskan bahwa mereka dipanggil oleh Sang Juru Selamat yang adalah “Jalan Kebenaran dan Hidup” (Yoh.14,6) untuk mampu merendahkan diri dan membuka diri satu sama lain. “Dalam semangat itulah, kita diundang untuk belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita dipanggil untuk saling mengampuni dan memaafkan.”

Mgr Agus mengakhiri kotbahnya dengan mengajak umat berdoa “agar perayaan Natal tahun ini mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan mengembangkan kemampuan untuk menerima perbedaan dan mensyukurinya sebagai kekayaan kehidupan bersama di Negeri kita tercinta ini, Indonesia.”

“Mari kita menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hati kita.”(aop)

IMG_20171228_213409 - CopyIMG_20171228_213421 - CopyIMG_20171228_213538 - Copy

lilin 1

Foto-foto diambil oleh PEN@ Katolik/Suster Maria Seba SFIC

Tinggalkan Pesan