pohon natal layar (2)

Di tahun 2015, sebuah Pohon Natal setinggi 10 meter dengan 6000 kuntum mawar yang terbuat dari koran bekas berdiri di Paroki Santo Agustinus Keuskupan Agung Pontianak, namun tahun ini pohon itu tinggal kenangan, dan di sana berdiri Pohon Natal setinggi 9,5 meter dengan enam layar segi tiga sama kaki. Nama pohon itu adalah Pohon Natal Layar.

Hasil karya umat yang nampak di halaman gereja paroki di Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya Pontianak, itu adalah ide kreatif dari Kepala Paroki Santo Agustinus Pontianak Pastor Joanes Yandhie Buntoro CDD. “Kali ini saya ingin menciptakan pohon Natal yang berbeda dengan pohon Natal pada umumnya, yang berbentuk pohon cemara,” kata Pastor Yandhie kepada PEN@ Katolik.

Keunikan pohon Natal itu terletak pada motif yang disulam dengan tali rafia di atas jaring keramba yang terdiri dari motif batik Dayak, batik Jawa, dan batik modern. “Motif beraneka ragam melambangkan umat Katolik yang beraneka ragam dari berbagai suku, yang disatukan dalam Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik,” jelas imam itu.

Pohon itu, lanjut Pastor Yandhie, “juga melambangkan layar para rasul yang siap menjaring jiwa dengan menerima angin Roh Tuhan.”

Menurut Anton, seorang anak OMK yang ikut dalam proses pembuatan pohon itu, proses pembuatan cukup rumit dan banyak kali pengulangan. “Proses pembuatan pohon Natal ini memakan waktu sekitar tiga minggu lebih dengan melibatkan sekitar 40 umat, baik orang tua, OMK dan anak-anak Sekami, dari berbagai kring,” katanya.

Untuk membuat pohon itu, jelas Anton, pertama mereka  mempersiapkan bahan-bahan dasar seperti tali rafia dan jaring keramba, serta alat-alat yang akan digunakan seperti mal untuk memotong pola, cat kompresor, dan jarum jahit karung untuk menyulam.

Setelah membuat sketsa dari kertas yang diletakkan di atas jaring kemudian semprot dengan cat kompresor biarkan kering, mereka membuat bingkai masing-masing pola batik itu dengan menggunakan tali rafia yang disulam sesuai sketsanya.

Langkah terakhir mengisi bingkai-bingkai sketsa dengan sulaman tali rafia sesuai pola masing-masing, dan menggabungkan lembar-lembar sulaman dengan cara dijahit membentuk pola segi tiga sama kaki. “Jadwal penyulaman tidak dibatasi. Kapan saja umat sempat. Mereka boleh membuatnya di kring masing-masing. Dengan panduan koordinator kring mereka kerja bareng,” katanya.

Seorang ibu yang akrab diisapa Ibu Yohanes menjelaskan, “Waktu pertama kali menyulam tali rafia ini, saya sempat stres, karena dalam waktu tiga jam cuman dapat sedikit, dan sering bongkar pasang karena salah sulam pola. Namun setelah bisa malah asyik sampai lupa waktu hingga subuh.”

Yang membanggakan umat yang membuat pohon Natal itu, lanjut Ibu Yohanes, “Pastor Yandhie dari Kongregasi Murid-Murid Tuhan itu turut terlibat langsung mulai dari memberikan training awal sampai hasil akhir.”

Pohon Natal yang sama juga dibuat di Stasi Santo Petrus Supadio dan Stasi Kanisius yang berada dekat Bandara Supadio Pontianak. “Saya ingin tahun ini dibuat adil, di pusat paroki ada pohon Natalnya, di stasi juga ada,” kata Pastor Yandhie. (Suster  Maria Seba SFIC)

tampak malam hari (2)

Tinggalkan Pesan