cq5dam.thumbnail.cropped.750.422

Dalam Audiensi Umum hari Rabu, 20 Desember 2017, Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, dengan memulai serangkaian refleksi tentang berbagai bagian liturgi. Unsur-unsur yang berbeda dalam Misa, termasuk Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dengan ritus pembuka dan ritus penutup, kata Paus seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Radio Vatikan, membentuk satu tubuh “dan tidak dapat dipisahkan.”

Meskipun demikian, kata Bapa Suci, dia ingin menjelaskan berbagai momen, “yang masing-masing mampu menyentuh dan melibatkan dimensi kemanusiaan kita.” Untuk menjalani Misa dan menikmati semua keindahannya, tegas Paus, “Perlulah memahami tanda-tanda suci ini.”

Paus Fransiskus memulai katekesenya dengan membicarakan ritus pengantar, yang tujuannya untuk memastikan bahwa umat beriman, yang berkumpul bersama, “dapat membentuk satu komunitas, dan agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk mendengar firman Allah dengan penuh keyakinan dan merayakan Ekaristi dengan penuh penghormatan.”

Paus mengatakan bahwa datang terlambat datang dalam liturgi itu tidak baik. Agar tepat waktu memenuhi kewajiban menghadiri Misa, tegas Paus, sebaiknya direncanakan sebelumnya agar kita datang lebih awal, guna “mempersiapkan hati kita untuk ritus ini, untuk perayaan komunitas ini.”

Yang dilakukan para imam di awal Misa, terutama penghormatan terhadap altar, “sangat penting” kata Paus, meski mungkin itu tidak nampak. Di awal liturgi, para imam mengungkapkan bahwa “Misa adalah perjumpaan kasih dengan Kristus.”

Segera setelah penghormatan altar, selebran dan umat membuat Tanda Salib, yang menandakan bahwa setiap doa “boleh dikatakan, berkisar pada Tritunggal Yang Mahakudus … awal dan akhirnya adalah cinta Tuhan Yang Maha Esa, yang terwujud dan diberikan kepada kita pada kayu Salib Kristus.”

Bapa Suci lalu mendorong orang tua dan kakek-nenek agar mengajar anak-anak membuat Tanda Salib dengan baik, dan untuk menjelaskannya kepada mereka bahwa dengan membuat Tanda Salib mereka menempatkan diri di bawah perlindungan Salib.

Selebran lalu mengucapkan sapaan liturgi, yang kemudian dijawab umat, “Dan bersama rohmu.” Ini, kata Paus, adalah awal “sebuah simfoni.” Di situ, semua orang yang ikut serta dalam liturgi menyadari bahwa mereka “digerakkan oleh Roh yang satu, dan untuk tujuan yang sama.” Dialog antara imam dan umat ini “menunjukkan misteri Gereja yang berkumpul bersama.”

Dan segera masuk dalam “saat yang sangat menyentuh,” yakni pernyataan tobat, saat semua yang hadir memikirkan dosa-dosa mereka sendiri, namun yang lebih penting, kata Paus, mengakui diri sebagai orang berdosa. “Jika Ekaristi benar-benar menghadirkan Misteri Paskah,” lanjut Paus, “hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali situasi kematian kita, agar dapat bangkit bersama Dia menuju kehidupan baru.” Hal itu, kata Paus, “membantu kita tahu betapa pentingnya pernyataan tobat itu.”

Paus mengakhiri katekesenya dengan berjanji melanjutkan refleksinya tentang bagian-bagian Misa Kudus dalam katekese yang akan datang.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Tinggalkan Pesan