Hakim dan janda

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Romanus dr Antiokia; Beato Grimoaldo Santamaria; Santa Rosa Filipin Duchene; Beata Salomea

Bacaan I: Keb. 18:14-16; 19:6-9

Mazmur: 105:2-3.36-37.42-43; R:5a

Bacaan Injil: Luk. 18:1-8

Pada suatu ketika Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Renungan

Salah satu keluhan yang sering terucap mengenai doa adalah ”kapan dikabulkan?” Ketika dihadapkan pada dunia yang serba cepat nan instan dan menawarkan aneka kepastian yang sungguh menarik, doa bisa terasa sebagai tindakan sia-sia tanpa kejelasan. Dalam situasi ini, godaannya adalah pemikiran ”daripada berdoa terus-menerus tanpa kepastian akan dikabulkan, lebih baik berpaling pada yang pasti-pasti saja”. Maka, satu-satunya alasan untuk tetap bertekun dalam doa adalah iman. Itulah yang dikemukakan oleh Yesus.

Doa bukan sekadar membuka mulut dan mengucap kata. Doa sejatinya adalah tindakan iman. Kitab Kebijaksanaan menampilkan sebuah pernyataan iman akan Allah yang penuh kuasa dan mampu melakukan hal-hal ajaib bagi umat-Nya dengan cara-Nya yang dahsyat. Kepercayaan akan Allah yang mahakuasa itu mesti melandasi setiap doa. Kepercayaan ini mencakup juga percaya akan cara kerja Allah dan membiarkan Allah bekerja dengan cara-Nya, bukan cara kita. Ketika doa terlantun, di situ iman dinyatakan. Memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja dengan cara-Nya, itulah semangat doa sejati. Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat doa saya dikabulkan, melainkan seberapa dekat diri saya dengan Allah melalui doa yang dilantunkan.

Allah Bapa sumber segala kebaikan, tambahkanlah imanku dan ajarilah aku untuk percaya bahwa kasih-Mu lebih besar dari segala kebutuhan dan pengharapanku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan