Muntilan (1)

Ketika Pancasila sebagai dasar negara kokoh, negara juga kokoh. Ketika Pancasila rapuh atau goyah, maka negara juga akan goyah dan roboh,” kata seorang tokoh Buddha, Suparetno, dalam Srawung Kebangsaan bertema “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila” di Muntilan.

Suparetno berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS), Paroki Santo Antonius Muntilan, Museum Misi Muntilan, OMK Santo Antonius Muntilan, serta Banser dan Ansor Muntilan.

Ketua Komisi HAK KAS Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, Pancasila sudah final, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati. “Sehingga kita bersyukur dengan Pancasila. Kita mempunyai payung nunggal bangsa, nunggal rasa. Itu ada payungnya. Dan payung Pancasila itu tidak akan hancur oleh badai dan petir apapun, karena kekuatan dan kedahsyatannya mampu menaungi dan merangkul semua.

Selanjutnya dalam acara 29 Oktober 2017 itu, tokoh Islam Bambang mengatakan, Pancasila sudah mengakomodir konsep Ketuhanan. Islam mengenal konsep ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan antar sesama manusia), jelas Bambang.

Oleh karena itu, lanjutnya, “kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara atau nunggal bangsa, kemudian ukhuwah basyariah nunggal rasa pada manusia, akan selalu dibawa. Kita perlu memahami, wajiblah kita berhubungan dengan Allah, namun kita memahami juga bahwa di Indonesia ini kita harus mempersiapkan diri, membangun kepercayaan diri dan membangun semangat diri untuk berbangsa dan bermasyarakat.”

Dalam acara yang dimeriahkan oleh seni Gejog Lesung “Laras Ati”, Sholawat Pitutur, tarian Senyum Indonesia dan pencak silat itu, Bambang mengatakan bahwa NU selalu berada di garda depan ketika Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, pluralisme, semangat kebangsaan, dan kebersamaan di Indonesia terusik.

Sedangkan tokoh Kristen, Pendeta Kristi mengapresiasi acara srawung itu. Baginya, acara itu merupakan usaha untuk saling mengenal satu sama lain apapun latar belakang kepercayaannya. “Saya rasa kasih dan cinta itu bahasa yang universal,” katanya.

Menurut Pendeta Kristi, Pancasila adalah harga mati. “Kita sebagai bagian dari Indonesia apapun agamanya rasanya tidak tinggal diam, tidak bisa sibuk dengan diri kita dengan agama kita masing-masing tanpa kita punya sikap yang nyata terkhusus juga kepada negara. Karena kita selain umat beragama, kita ini warga negara,” katanya.

Tokoh agama Konghucu, Tjan Kie, mengatakan bahwa setiap agama pasti menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dan perikemanusiaan. “Sebagai manusia ya jelas harus menganggap semuanya saudara,” katanya.

Acara Srawung Budaya merupakan salah satu rangkaian Gelar Budaya Muntilan 2017 yang diselenggarakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Selain sarasehan dalam Srawung Budaya, beberapa acara diselenggarakan dalam waktu terpisah seperti seminar Pancasila untuk pelajar, festival film pendek tentang Pancasila, peringatan hari Sumpah Pemuda, pameran pendidikan, gelar budaya pelajar dan kesenian lokal, dan refleksi kebudayaan.

Kepala Paroki Santo Antonius Muntilan Pastor A Kristiono Purwadi SJ mengapresiasi acara itu karena semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu terus diserukan dengan lantang. “Rasa-rasanya menjadi semakin relevan bagi  kita terutama Indonesia. Betul bahwa kita berasal dari berbagai macam wilayah. Tetapi toh, kita merasa disatukan. Kita berasal dari atau besar dari berbagai warna kulit,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

MuntilanMuntilan (3)IMG_0172

 

 

Tinggalkan Pesan