Kerajaan Allah1

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santa Margarita dari Skotlandia, Santo Yohanes de Castillo, dan Santo Alphonsus Rodrigues;

Santa Gertrudis dari Hefta

Bacaan I: Keb. 7:22–8:1

Mazmur: 119:89.90.91.130.135.175; R: 89a

Bacaan Injil: Luk. 17:20-25

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

Renungan

Dalam sejarah dunia, ada banyak cerita manusia yang dengan berbagai macam cara dan keyakinan berusaha mencari dan menemukan Tuhan. Belum lama ini ada kegaduhan mengenai sebuah kelompok yang oleh sebagian orang disebut ”ajaran sesat”. Mereka dianggap sesat karena tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini oleh kelompok mayoritas dan membentuk kelompok eksklusif yang mencurigakan. Gerakan semacam itu bukan yang pertama dan boleh jadi bukan pula yang terakhir dalam masyarakat. Gerakan yang dianggap sesat itu, dan juga berbagai cara manusia untuk mencari Tuhan, menampilkan kegelisahan yang menyelimuti manusia. Sebuah pertanyaan mendasar tentang Tuhan: bagaimana bisa berjumpa dengan Tuhan? Masalahnya, Tuhan tidak bisa diukur dan ditebak.

Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak bisa diperkirakan dengan tanda-tanda lahiriah. Sementara manusia cenderung berpegang pada tanda-tanda yang bisa diterima secara inderawi. Maka, pertanyaannya, Tuhan seperti apa yang dicari manusia? Yang sejati atau yang seturut gambaran manusia?

Untuk sampai kepada Tuhan yang sejati dan untuk mengenal kehadiran-Nya, manusia perlu dituntun oleh kebijaksanaan ilahi sendiri. Maka, dengan indah, Kitab Kebijaksanaan menunjukkan sikap yang perlu dibangun dalam pencarian akan Tuhan. Di akhir bacaan pertama dikatakan, dengan ”Aku jatuh cinta kepada kebijaksanaan dan kucari sejak masa mudaku”. Barang siapa merindukan dan mencari kebijaksanaan, ia akan menemukan Allah.

Ya Allah, penuhilah aku dengan Kebijaksanaan-Mu yang menuntunku pada jalan kebenaran-Mu. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan