Hamba

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Yosef Maria Pignatelli; Santo Duns Scotus; Santo Nikolaus Tavelic

Bacaan I: Keb. 2:23–3:9

Mazmur: 34:2-3.16-17.18-19; R: 2a

Bacaan Injil: Luk. 17:7-10

Yesus bersabda kepada para murid: ”Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Renungan

Bernard Sesboue, seorang teolog Perancis, mengatakan bahwa salah satu ”alergi” bagi orang modern di zaman ini adalah ajaran dan gambaran mengenai Allah sebagai Yang Mahakuasa atas seluruh alam semesta dan harus disembah dengan ketaatan. Mereka tidak sanggup memahami bahwa manusia adalah ”hamba” dari Allah.

Gambaran Allah yang menjadi ”alergi” tersebut terasa sekali dalam sabda Yesus hari ini. Yesus menampilkan gambaran relasi majikan dan hamba, yang seakan membenarkan bahwa Allah adalah majikan dan manusia adalah hamba. Apakah Allah memang sedemikian ”kejam”? Bagaimana dengan belas kasih-Nya? Kiranya Kitab Kebijaksanaan memberi penjelasan yang inspiratif. Penulis Kitab Kebijaksanaan menegaskan bahwa kebahagiaan manusia ada di tangan Allah yang telah menciptakan manusia ”untuk kebakaan dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri”. Maka, ketaatan bukan sekadar sebuah sikap tunduk menghamba. Ketaatan kepada Allah adalah pilihan manusia yang didasari oleh iman bahwa kehendak Allah adalah kebahagiaan sejati bagi manusia.

Memberikan dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah, sebagaimana digambarkan oleh sikap hamba kepada tuannya, adalah ungkapan ketaatan iman itu. Hanya dalam iman, manusia bisa memahami kebaikan Allah dan mengalami keselamatan.

Bapa yang penuh kasih, berilah aku kerendahan hati dan mampukanlah aku untuk taat kepada-Mu sebagai ungkapan imanku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan