Luk 16 9 15

PEKAN BIASA XXXI

Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours, Uskup (P)
Santo Theodorus Konstantinopel

Bacaan I: Rm. 16:3-9.16.22-27

Mazmur: 145:2-3.4-5.10-11; R: 1b

Bacaan Injil: Luk. 16:9-15

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

Renungan

Paus Fransiskus mengatakan, ”Kebahagiaan tidak dapat diunduh dari internet”. Ungkapan ini senada dengan kebijaksanaan tua yang berkata, ”uang tidak dapat membeli kebahagiaan”. Tuhan Yesus mengajak kita beranjak dari ilusi kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia materi. Istilah ”mammon” kiranya bukan hanya menunjuk pada perkara uang, melainkan juga semua berhala dunia materi yang mengikat manusia untuk merasa cukup dengan kesementaraan. Tuhan Yesus secara jelas menyodorkan dua hal untuk dipilih: Allah atau mammon?

Kekuatan uang dan materi memang sangat menarik dan mampu meyakinkan kita bahwa tanpa materi kita tidak bisa bahagia, bahkan tidak bisa hidup. Tuhan Yesus kiranya juga tidak meminta kita meninggalkan uang dan materi begitu saja. Ia mengarahkan kita untuk waspada terhadap keterikatan. Ketika kita sulit tersenyum ketika tidak punya uang, atau ketika hidup kita disibukkan oleh belanja dan belanja tanpa kendali, mungkin kita mulai terikat oleh mammon.

Allah mengundang kita untuk memilih keabadian dan beranjak mengikuti kehendak-Nya. Hanya persahabatan dengan-Nya yang menuntun kita pada kebahagiaan sejati. Dalam dunia materialistis dan konsumeris ini, mari kita tiada henti mohon kekuatan Roh Allah untuk memampukan kita memilih Allah, dan bukan mammon.

Tuhan Yesus, bantulah aku melepaskan diri dari ikatan berhala-berhala duniawi dan mampukanlah aku setia kepada-Mu dalam penziarahan hidup ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan