Copy of IMG_0023

Indonesia tak akan ada tanpa komitmen bersatu melampaui identitas primordial. Sumpah Pemuda yang dideklarasikan 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak penting komitmen itu. Maka, semangat Sumpah Pemuda perlu dirawat terus di tengah upaya beberapa pihak untuk menyangkal kebhinekaan dan menghancurkan persatuan bangsa.

Dengan keyakinan itu, “generasi muda lintas agama Semarang merasa perlu mengenang, meneguhkan, dan merayakan momentum Sumpah Pemuda sekaligus pesan persatuan yang melampaui kebhinnekaan,” kata Sabiq Ahmad, ketua panitia peringatan Sumpah Pemuda Lintas Agama di Semarang yang dilaksanakan di Gereja JKI Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang.

Sebanyak 250 orang muda hadir dalam acara yang diakhiri dengan pembacaan Sumpah Pemuda itu. Sebelumnya, OMK Gereja Santa Theresia Bongsari bermain teater dan musik akustik, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Al Ghozali dan Gus Dur menampilkan seni rebana, Kaum Muda JKI G2CC membawakan beberapa lagu, Kaum Muda Klenteng Tay Kak Sie menampilkan Chinese Music, Anak-anak muda Jemaat Allah Global Indonesia menari Gambang Semarang dan Tarian Maumere, dan Mahasiswa STT Abdiel bermain keroncong.

Gus Ubadillah Achmad juga tampil membaca puisi yang diiringi tiupan saksofon oleh Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, kemudian Bengkel Sastra Taman Maluku mengadakan penampilan sastra dan musikalisasi puisi.

Pendeta Gereja JKI G2CC Sonny mengatakan, cara berteologi seseorang akan mewarnai Indonesia. “Saya setuju dengan konsep kerukunan umat beragama, teologi kerukunan umat beragama. Dengan teologi itu kita tidak menjadi eksklusif, Gereja tidak eksklusif, masjid tidak eksklusif, semua tempat-tempat ibadah tidak eksklusif. Kita berbaur menjadi satu menunjukkan keindonesiaan kita,” katanya.

Berbaur, menurutnya, akan membuat Indonesia makin kaya akan keragaman. “Di dalam keragaman, kita justru memperlihatkan kesatuan kita, kita bisa merasakan semangat persatuan dan kesatuan terutama yang diwariskan oleh founding fathers bangsa ini, dan kita adalah penerusnya,”  lanjutnya.

Menyambut baik acara 26 Oktober 2017 itu, Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, “Kita harus bersatu dalam kerukunan. Isu-isu yang memecah belah hanya bisa dilawan bukan dengan kekerasan melainkan dengan merajut kerukunan yang semakin kuat.” (Lukas Awi Tristanto)

Copy of IMG_9970

Copy of IMG_9978Copy of IMG_9956Copy of IMG_9980

Tinggalkan Pesan