Bait Allah

PEKAN BIASA XXXI

Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran (P)
Santo Teodorus Tiro, Martir

Bacaan I: Yeh. 47:1-2.8-9.12

Mazmur: 46:2-3.5-6.8-9; R: 5

Bacaan II: 1Kor. 3: 9b-11.16-17

Bacaan Injil: Yoh. 2:13-22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: ”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: ”Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: ”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Renungan

Hari ini kita merayakan pemberkatan Gereja Katedral Keuskupan Roma, yang boleh disebut sebagai gereja induk bagi umat Katolik Roma. Basilika St. Yohanes Lateran dibangun pada tahun 324 dan menjadi simbol kemerdekaan umat kristiani.

Pada hari pemberkatan gereja induk seluruh umat Katolik ini, Injil Yohanes mengajak kita merenungkan makna gereja. Setelah kisah perjamuan nikah di Kana, Injil menyajikan kisah Yesus yang mengamuk di Bait Allah. Bisa dipastikan kebanyakan orang kristiani membenarkan tindakan Yesus itu. Tetapi, mari membayangkan seorang imam yang mengamuk, atau setidaknya marah di dalam gereja. Meskipun posisi dan alasannya benar, bisa dipastikan ia menuai kontroversi dan mungkin diserang banyak haters.

Tindakan Yesus di Bait Allah mestinya selalu menjadi kritik yang menyentak kita. Apakah gereja adalah tempat penuh cinta, atau sekadar wadah aneka peraturan, birokrasi, kebiasaan yang membelenggu manusia dan menyulitkan manusia untuk mengalami kehadiran Allah? Dan apakah gereja menjadi tempat orang yang rendah hati dan bersemangat kasih, atau orang-orang arogan yang anti kritik?

Nabi Yehezkiel menceritakan penglihatan tentang air yang mengalir dari Bait Tuhan. Gereja kita memang semestinya menjadi sungai yang mengalirkan air yang jernih; sungai cinta kasih, sukacita, dan belas kasih yang menyejukkan manusia.

Tuhan Yesus Raja Cinta, ajarilah aku membangun persekutuan iman dan kasih yang sejati di dalam nama-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan