Sumpah anak anak di Bongsari

Di depan altar Gereja Paroki Santa Theresia Bongsari, Semarang, dalam Misa hari Minggu 29 Oktober 2017, anak-anak paroki itu tampil dengan berbagai pakaian daerah, dan di antara dua anak yang membawa bendera di sebelah kiri dan dua anak di sebelah kanan, seorang anak memekikkan Sumpah Pemuda ala anak-anak yang diikuti teman-teman yang lain.

“Kami anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai tanah air Indonesia dengan menyayangi binatang dan tanaman, serta menjaga kebersihan lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan, tetapi meletakkan pada tempatnya.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai bangsa Indonesia, bersedia bersahabat dengan teman-teman tanpa membedakan kaya-miskin, suku, agama dan ras.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Bahasa Indonesia dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tekun dan rajin belajar, mengembangkan diri, meraih cita-cita.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Gereja Katolik dengan rajin berdoa, ibadah ke gereja, terlibat kegiatan-kegiatan Gereja dan mengasihi sesama.”

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini sungguh perlu digemakan. Alasan itu mengajak Paroki Bongsari menggemakannya sampai ke anak-anak. Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan, “Anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari Semarang ingin melanjutkan dan tetap mengobarkan semangat pemuda-pemudi Indonesia. Maka, pada perayaan Ekaristi, mereka mengenakan busana berbagai daerah dan menampilkan tarian daerah serta mengucapkan ikrar mereka.”

 

Dijelaskan bahwa orang-orang muda sudah menyadari bahwa Indonesia merupakan rumah bersama bagi seluruh warga dengan berbagai perbedaan latar belakang. “Dengan perbedaan yang ada, pemuda dan pemudi Indonesia bertekad mewujudkan negara merdeka, berdaulat, damai, adil dan makmur. Mereka berikrar bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa Indonesia.”

 

Semangat  Sumpah Pemuda 1928 itu, tegas imam itu, perlu terus dikobarkan dan diwariskan kepada generasi muda. “Kita ingin menjaga dan merawat kebhinekaan Indonesia yang indah ini agar lebih sejahtera, damai dan adil. Untuk itu, kita perlu  bersatu padu berjuang bersama mewaspadai dan bertindak bila ada sekelompok masyarakat yang mengancam kebhinekaan Indonesia dan memaksakan ideologinya yang tidak sejalan dengan Pancasila,” kata Pastor Didik Chahyono SJ. (Lukas Awi Tristanto)

Sumpah anak anak di Bongsari (1)Sumpah anak anak di Bongsari (2)

 

Tinggalkan Pesan