Lustrum VI SMA Gonzaga

Belajar mengajar di SMA Kolese Gonzaga harus membuat pelajar menjadi putra-putri Allah yang merdeka dari belenggu dan ketakutan serta mau memerdekakan orang lain karena diri mereka sendiri sudah merdeka. Karena, kalau Anda makan dan yang lain tidak makan dan kalau Anda berpendidikan dan yang lain tidak berpendidikan, itu tidak adil, padahal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berharap kita adil dan beradab, berarti menciptakan budaya kasih dengan saling memperhatikan sesama di mana pun.

Vikaris Jenderal KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr berbicara dalam homili Misa Syukur 30 Tahun atau Lustrum VI SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti Jakarta yang dilaksanakan di sekolah yang terletak di Pejaten Barat Jakarta Selatan, 3 November 2017.

Dalam Misa bertema “Mensyukuri Kebhinekaan” yang dipimpin vikjen bersama para imam lulusan Wacana Bhakti sebagai konselebran, Pastor Pangestu menegaskan bahwa kebhinekaan bukanlah slogan karena “Roh Kudus yang mempersatukan kita dalam Gereja dengan simbol satu tubuh yang berarti kalau yang satu menderita yang lain pun ikut menderita.”

Ditegaskan, negara, bangsa, masyarakat, serta sekolah dan seminari itu sama-sama membutuhkan daya kesatuan dan kerja sama, maka “jangan sekedar bersyukur atas kebhinekaan tapi atas wujud nyatanya, karena sekarang banyak orang berpikir sangat primordialisme, sangat memperhatikan kesukuan dan agamanya.”

Namun imam itu percaya, hal itu “no way” dalam Generasi Milenial di Kolese Gonzaga. “Dalam teman-teman orang muda generasi ini tidak ada itu primordial dan diskriminasi. Mereka sangat cair dan sangat mudah menerima hal-hal yang baik,” kata imam itu.

Vikjen berharap agar lulusan Kolese Gonzaga menjadi yang terbaik bukan setengah-setengah dalam memberikan sumbangan bagi Gereja dan bangsa ini. “Berbahagialah Anda Generasi Milenial dengan teknologi yang ‘hanya tek langsung jadi’, tapi jangan lupa, dengan dijiwai oleh Roh Kudus, selamatkanlah semua orang dan berikan kesejahteraan bersama, bukan menjadi monster yang membunuh orang lain.”

Dalam sambutan mewakili Provinsial Serikat Yesus (SJ) Indonesia, Socius Provinsial Ordo Serikat Yesus (Jesuit) Provinsi Indonesia Pastor Lucianus Suharjanto SJ menyampaikan pesan dari pastor provinsial yang juga merupakan pesan dari Kongregasi Jenderal ke-36 Serikat Yesus yang berakhir 12 November 2016 di Roma agar institusi itu mendalami dan mengadopsi tiga ketrampilan dasar yang dibutuhkan zaman ini yakni diskresi (discernment), kolaborasi (collaboration), dan networking.

“Diskresi letaknya di antara logika dan estetika. Logika itu kotak bentuknya, tetapi kalau kita dikotak-kotakan kita tidak rela. Kalau kita diperlakukan hanya dengan logika kita marah. Tapi tanpa logika kita bubrah. Di antara logika dan estetika ada diskresi, yaitu kejernihan batin untuk menangkap yang paling baik yang dikehendaki Tuhan. Keterampilan diskresi harus dimiliki oleh institusi ini,” tegas imam itu.

Kolaborasi terletak antara kata dan sastra. “Antara kata dan sastra ada elokuensi,  yaitu kemampuan untuk menemukan kata, frasa dan kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan peristiwa. Ketepatan itu adalah langkah untuk memulai karya yang baik dan benar,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa di jaman ini, networking telah difasilitasi dengan teknologi tingkat tinggi yakni cyberspace yang harus dikuasai, khususnya oleh Generasi Milenial.

Sesudah Misa para pelajar serta alumni dan undangan menyaksikan berbagai penampilan angkatan serta Wacana Bhakti Symphony Orchrestra dan makan bersama yang diawali dengan pemotongan Tumpeng Lambang Rasa Syukur oleh Kepala Sekolah SMA Gonzaga Pastor Leonardus E.B. Winandoko SJ, M.Ed, yang diberikan vikjen KAJ yang mewakili Uskup Agung Jakarta sebagai pemilik seminari dan sekolah.

Acara itu dilengkapi pengenalan orang-orang “yang demikian berdedikasi dalam pendidikan, yakni para pastor dan bruder yang pernah pernah berkarya sebagai rektor, minister atau moderator di Kolese Gonzaga dan pamong di Seminari Wacana Bakti, serta para alumni Kolese Gonzaga dan Wacana Bhakti yang sudah menjadi imam. Selain itu diberikan penghargaan bagi guru dan karyawan yang sudah berkarya selama 10, 15, 20, 25 dan 30 di kolese dan seminari itu.

Di saat Misa Syukur, terdengar juga doa bagi para imam, guru, karyawan dan siswa SMA Kolese Gonzaga yang sudah meninggal. Secara khusus disebut Almarhum Pastor Joseph Ignatius Gerardus Maria Drost SJ dan Pastor Redemptus Murtisunu Wisnumurti SJ. Doa-doa umat lain, selain dalam Bahasa Indonesia disampaikan juga dalam Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Batak Karo dan Bahasa Batak Toba.

“Ya Bapa, berkatilah para alumni SMA Kolese Gonzaga agar selalu mengembangkan semangat magis dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur hasil pendidikan di sekolah ini: Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment semata-mata demi kemuliaan-Mu yang lebih besar.

Dalam rangka 30 tahun Kolese Gonzaga dilaksanakan juga Seminar Kebangsaan Memperingati Hari Soempah Pemoeda “Merajut Semangat Kebangsaan dalam bingkai NKRI” tanggal 28 Oktober 2017 dengan tema “Kembali ke Semangat Soempah Pemoeda 1928 untuk Keutuhan Indonesia” khusus untuk para pendidik dengan pembicara Pastor Franz Magnis Suzeno SJ, Syafei Maarif, dan KH Said Agil Siradj.  Sedangkan 1 November 2017 bertema “Pengamanan dan Pengamalan Pancasila” khusus untuk SMP dan SMA dengan pembicara Yudi Latif, Pastor Baskoro Poedji Noegroho SJ dan Mohamad Sobari.

Acara-acara lain yang juga dilakukan untuk “mensyukuri kebhinekaan” adalah Pameran Buku dan Peluncuran buku karya siswa (28 Oktober-1 November), Gonzaga Lustrum Festival 21-28 Oktober, Family Gathering 22 Oktober, Pagelaran Wayang Kulit “Pandawa Ngencer” 4 November, Live In Kolese 24 Oktober sampai 5 November, dan Art Performance 31 Oktober dan 1 November. Lustrum VI Kolese Gonzaga bertema Gonz for Indonesia.

Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti Pastor Adrianus Andy Gunardi Pr  dalam sambutannya mensyukuri begitu banyak orang hebat yang telah dibangun dari sekolah dan seminari itu, juga guru-guru dan karyawan, serta 68 imam yang ditahbiskan dari seminari itu.

“Cinta kepada Tuhan dapat dilihat lewat cinta kepada sesama. Dimensi-dimensi humanistik, man for others, merupakan bagian dari hidup kita. Maka, lingkungan sekolah dan seminari ini membangun cinta kepada Allah yang dibuktikan melalui cinta kepada sesama,” tegas alumnus Seminari Wacana Bhakti itu.(aop)

Lustrum VI SMA Gonzaga1

Lustrum VI SMA Gonzaga3

Lustrum VI SMA Gonzaga4

Tinggalkan Pesan