31-Okt-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXX

Peringatan Wajib Santo Karolus Boromeus, Uskup (P)
Santo Emerik

Bacaan I: Rm. 11:1-2a.11-12.25-29

Mazmur : 93:12-13a.14-15.17-18; R: 14a

Bacaan Injil: Luk. 14:1.7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Santo Paulus menyampaikan seruan tegas: ”Jangan kamu merasa pandai!” (Rm. 11:25). Seruan ini berkaitan dengan situasi orang Israel yang merasa kaum pilihan. Karena status itu, mereka merasa mempunyai derajat lebih tinggi daripada bangsa lain. Mereka meyakini pula bahwa hidup mereka lebih unggul dari yang lain.

Arogansi bukan hanya persoalan orang Israel. Kenyataannya, merasa lebih tinggi dan terhormat itu ”kesukaan alamiah” manusia. Termasuk kita, mungkin. Inilah pula yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dengan sederhana, Yesus mengingatkan bahwa ”di atas langit masih ada langit”. Ia tidak hanya bicara tentang kenyataan bahwa selalu ada orang yang lebih pandai atau hebat daripada kita. Lebih dari itu, Ia ingin kita menyadari kehadiran Allah yang melebihi segala sesuatu. Dia pulalah yang memberikan semua kehebatan yang kita miliki.

Allah sesungguhnya menjadi standar atau ukuran kehormatan bagi kita. Bukan seberapa hebat kita, melainkan kerendahan hati dan ketaatan kepada-Nya yang menjadi pangkal kehormatan. Allah akan memuliakan mereka yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana Ia telah memuliakan Yesus Kristus. Bersikaplah rendah hati, demikian ditandaskan Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Tuhan Yesus, ajarilah aku menjadi rendah hati dan taat kepada kehendak Allah. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan