Nettuno

Paus Fransiskus merayakan Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Kamis 2 November 2017, dengan memperingati semua orang yang meninggal dalam perang, seraya mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan pelajaran masa lalu dan bahwa satu-satunya buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian.

Paus mengungkapkan kata-kata peringatan yang keras kepada para penghasut perang dalam homili di Monumen Peringatan dan Pemakaman Perang AS Nettuno sekitar 50 kilometer selatan Roma.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan, dalam kesempatan itu Paus mengulangi lagi keyakinannya bahwa “peperangan menghasilkan tidak lebih dari kuburan dan kematian.” Paus juga menegaskan bahwa dia memilih berkunjung ke pemakaman perang sebagai pertanda bahwa “kini umat manusia sepertinya tidak belajar dari pelajaran masa lalu, atau tidak ingin mempelajarinya.”

Monumen itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang yang tewas dalam operasi militer yang dilakukan untuk membebaskan Italia (dari Sisilia ke Roma) dari Nazi Jerman. Kapel di pemakaman itu berisi daftar 3095 orang yang hilang.

Paus tiba di pemakaman itu sebelum sore hari maka dia bisa menghabiskan waktu untuk refleksi dan penghormatan pribadi kepada 7.860 tentara yang kebanyakan masih muda, yang menyerahkan hidup mereka demi kebebasan dan rasa hormat kepada umat manusia.

Seraya berjalan dalam hening di antara deretan-deretan batu nisan, Paus Fransiskus membungkuk untuk membaca beberapa nama dan tanggal yang tertulis di marmer putih. Dalam homili, Paus menegaskan bahwa fakta-fakta itu menunjukkan bahwa satu-satunya buah dari perang adalah kematian .

Kepada umat berkumpul di hari suci itu untuk menghormati semua orang yang telah meninggal, Paus mengatakan bahwa dia memilih datang ke tempat ribuan orang tewas dalam pertempuran berdarah itu untuk kembali memohon kepada Tuhan “Tolonglah Tuhan: hentikan mereka. Jangan ada lagi perang. Jangan ada lagi pembantaian yang sia-sia.”

“Tolonglah Tuhan, semuanya hilang karena peperangan,” doa Paus dalam homili tanpa teks dan emosi melihat makam ratusan ribu pria muda yang harapannya “diputuskan dengan kejam, di saat dunia kembali berperang bahkan bersiap meningkatkan perang.”

Menurut Paus, saat ini ada orang yang kerjanya hanya untuk menyatakan perang dan melakukan konflik. “Mereka akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri dan segalanya.” Karena hari itu hari pengharapan dan air mata, Paus mengatakan bahwa air mata yang bercucuran dari yang kehilangan suami, anak laki-laki dan teman-temannya saat perang hendaknya tidak pernah dilupakan.

“Tapi umat manusia tidak belajar dari pelajaran dan sepertinya tidak mau mempelajari pelajaran itu,” kata Paus yang kemudian mengajak umat berdoa secara khusus  bagi kaum muda yang terjebak dalam konflik. “Banyak di antara mereka yang sekarat setiap hari dalam perang kecil-kecil,” kata Paus seraya mengingat ribuan anak tak berdosa yang sedang membayar harga perang.

Setelah merayakan Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di Pemakaman Militer Nettuno, Paus Fransiskus pergi ke Monumen Peringatan Gua-Gua Ardeatine untuk berdoa bagi korban pembantaian Perang Dunia Kedua. Di sana tahun 1962 dibantai 335 pria dan anak laki-laki sipil Italia dalam aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pejuang perlawanan yang menewaskan 33 anggota unit polisi militer Nazi. Di sana Paus berdoa dan memberikan refleksi singkat. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Nettuno 1

Gua-Gua ArdeatineGua-Gua Ardeatine1

Tinggalkan Pesan