Anjongan6

Uskup Agung Pontianak “sedang mewujudkan mimpinya” dengan meletakkan batu pertama Pembangunan Wisata Rohani dan Rumah Retret Bunda Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, Kalimantan Barat yang antara lain terdiri dari Gua Maria, Jalan Salib, patung Yesus yang terbesar di Kalimantan, kapel, aula, rumah penginapan dengan warna budaya yang ada di Kalimantan, dan miniatur Katedral Pontianak yang lama.

Peletakan batu pertama itu dilaksanakan sesudah Misa 29 Oktober 2107 di depan Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, yang sudah dibangun di tempat itu sejak tahun 1973 dan ingin direnovasi menjadi wisata rohani dan rumah retret. Ribuan umat dari berbagai paroki di keuskupan agung itu datang menghadiri acara itu dengan berbagai sarana transportasi.

Hadir juga beberapa orang yang sudah dan akan terlibat dalam pembangunan itu serta beberapa suster Dominikan dari Asti yang akan menangani pelaksanaan wisata rohani dan rumah retret itu.

Menurut informasi yang belum terlalu jelas diperoleh oleh Mgr Agus, gua itu memiliki pesan perdamaian karena setelah G30S PKI terjadi bentrokan antara orang Dayak dan orang Cina, “dan Mgr Isak Doera Pr, yang waktu itu Pastor ABRI, ingin membuat perdamaian antara kedua kelompok itu dan mengajak mereka datang ke Gua Maria ini. Dari dari situ muncul nama Gua Maria Ratu Pencinta Damai ini.”

Mgr Agus menjelaskan, selain membangun aula yang akan mampu menampung 400 hingga 800 orang, akan juga dibangun miniatur Katedral Pontianak yang lama. “Ketika kami datang ke Pontianak, katedralnya sangat megah, namun sisa-sisa gereja yang lama hampir tidak ada lagi. Mudah-mudahan dengan miniatur ini, uskup yang pertama sampai yang sekarang bisa terlihat lewat foto-fotonya yang nanti dipajang di depan miniatur itu.”

Rumah penginapan dengan kelas hotel kecil, satu kamar, satu tempat tidur dan WC serta kamar mandi akan dibuat dua bagian, ada yang 4 unit dengan setiap unit memiliki 6 kamar dan ada yang 6 unit dengan setiap unit memiliki  4 kamar. “Mengapa kecil? Karena tanah ini berbukit-bukit, dan saya tidak mau merusak hutan.  Maka kita bangun sesuai kultur tanahnya.”

Selain itu, karena gua itu membawa nama Maria Ratu Pencinta Damai, “maka kami ingin membuat miniatur Indonesia di sini. Mungkin ada unit gaya Dayak, unit gaya Cina, unit gaya Jawa, unit gaya Melayu dan sebagainya, sesuai budaya di Kalimantan, yang sedang kita perhitungkan. Nanti kami minta ijin dari Majelis Adat Melayu. Ornamen-ornamen rumah akan mencerminkan gaya yang ada. Itu daya tarik. Kita di Kalbar kurang memperhatikan simbol-simbol kebhinekaan dan persatuan. Itu yang akan kami tuangkan dalam unit-unit. Pesan yang mau disampaikan adalah kebhinekaan,” jelas uskup seraya menambahkan akan dibangun pula rumah suster, kamar makan, kamar pembimbing dan karyawan.

Di tempat parkir direncanakan dibangun Patung Santa Bernadeth dan di depan aula dibangun plasa “agar nanti bisa dilaksanakan pawai lilin seperti di Lourdes pada setiap bulan Maria dan Bulan Rosario, mulai Patung Bernadeth lalu berkeliling sampai di Plaza dengan Berkat Sakramen Mahakudus dan berpuncak di Gua Maria ini.” Itulah mimpi saya. “Boleh enggak saya mimpi?” tanya Mgr Agus. “Boleh …” gemuruh jawaban umat.

Mgr Agus lalu memperkenalkan para arsitek dan insinyur yang sudah mulai bekerja dan bersiap menata tempa itu dengan membayangkan ribuan orang yang akan datang di Bulan Maria dan Bulan Rosario, bagaimana menampungnya dan bagaimana mereka bisa duduk, misalnya dengan menggunakan terap-terap di tanah yang miring.

“Maka mimpi ini harus terlaksana. Bukankah kita semua bangga kalau tempat ini indah? Betul enggak?” tanya uskup. “Betul ….” Jawab umat. “Aku pun bangga,” lanjut Mgr Agus .

Lalu bagaimana proses pembangunannya? Mgr Agus menekankan bahwa susteran, rumah karyawan dan Jalan Salib menjadi prioritas. Bagaimana dananya? Selain mengharapkan bantuan donatur, uskup berencana menjual kamar-kamar yang akan dibangun. “Saya akan jual satu kamar 30 juta rupiah, dan nama pembeli akan diabadikan di setiap kamar. Tuhan tidak menuntut itu, tapi saya manusia menghormati orang yang menyumbang.”

Total kebutuhan pembangunan itu antara 10 sampai 15 milyar. “Tapi jangan pikir milyar-milyar itu. Kita punya 27 paroki. Kita akan cari 15 paroki yang bisa membantu dan menyumbang untuk Jalan Salib dengan 15 perhentian dengan patung setinggi 2 meter itu,” kata uskup seraya mengajak semua umat bekerja sama agar mewujudkan mimpi itu terasa ringan.

Meski jumlahnya kelihatan besar, “kalau paroki, umat, dan keuskupan bekerja sama maka akan terasa ringan mewujudkannya. Coba bayangkan, kalau setiap umat di Keuskupan Agung Pontianak yang berjumlah 600.000 menyumbang 1000 rupiah.”

Mgr Agus menegaskan, siapa saja boleh menyumbang, sehingga tempat itu menjadi kebanggaan bersama bukan kebanggaan Uskup Agus saja, “tetapi kebanggaan umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak, dan mudah-mudahan menjadi kebanggaan orang Kalbar,” kata uskup.”

Yang ingin membantu bisa menghubungi 0561 731280 atau 0812 5233 8650. Sumbangan dana bisa juga langsung disalurkan lewat Rekening BCA 512 5678 901 an Keuskupan Agung Pontianak.

Perayaan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Wisata Rohani dan Rumah Retret Bunda Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan ditutup dengan sebuah lagu memuji Santa Perawan Maria. (aop)

Anjongan 5AnjonganAnjongan 3

Anjongan 1

Tinggalkan Pesan