James_Tissot_The_Woman_Who_Had_an_Infirmity_400

PEKAN BIASA XXX (H)

Santo Marcellus; Beao Angelus dari Acri, Imam dan Biarwan; Beato Dominikus Collins, dan kawan-kawan Martir.

Bacaan I: Rm. 8:12-17
Mazmur: 68:2.4.6-7ab.20-21; R:21a
Bacaan Injil: Luk. 13:10-17

Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: ”Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: ”Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Renungan

Yesus mendobrak aturan-aturan kaku yang sering kali menyengsarakan banyak orang sezaman-Nya. Kabar Gembira tentang keselamatan Allah dinyatakan-Nya dengan berbagai tindakan yang menyembuhkan dan membahagiakan. Penyembuhan orang sakit pada hari Sabat (bdk. Luk. 13:12), menunjukkan belas kasih dan cinta Allah melampaui aturan, tata cara dan hukum keagamaan. Tindakan Yesus hendak mengajarkan universalitas kasih Allah yang tidak terikat waktu dan ruang. Kasih Allah diberikan untuk semua dan siapa saja yang terbuka akan Sabda-Nya. Warta dan penyataan belas kasih Allah membawa kesembuhan dan keselamatan.

Belas kasih Allah menjadi sebuah tawaran bagi setiap orang. Agar mampu menerima dan menghidupi semangat kasih Allah maka hidup harus dipimpin oleh Roh Allah sendiri. Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang menerima Roh menjadi bagian dari anak-anak Allah. Dan oleh Roh itu pula kita berani menyebut Allah sebagai Bapa (bdk. Rm. 8:15). Martabat sebagai anak-anak Allah memampukan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah Bapa dan pada akhirnya mampu memberi kesaksian akan kasih Bapa yang menyelamatkan.

Memberikan kesaksian akan kasih Allah berarti kita memberikan diri dan seluruh yang ada pada kita sebagai saluran berkat Allah bagi sesama dan dunia sekitar kita. Hanya dengan demikian kita layak disebut murid Kristus Yesus. Apakah hidup dan tindakan kita sudah menunjukkan semangat kita sebagai pengikut Yesus?

Tuhan Yesus, Engkau telah menunjukkan kasih Bapa dalam hidup dan tindakan-Mu. Bantulah aku untuk mengikuti teladan-Mu dalam hidup sehari-hari. Semoga hidup dan tindakanku sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan