P John Dami Mukese

Kamis, 26 Oktober 2017, pukul 02.15 di RSUD Ende, Flores, Pastor John Dami Mukese SVD meninggal dunia dalam usia 67 tahun. Imam yang lahir tanggal 24 Maret 1950 di Menggol, Benteng Jawa, Manggarai Timur, Flores, NTT itu dikenal sebagai penyair religius, penulis, wartawan dan dosen.

Dalam lingkup sastra NTT, nama Pastor JDM, begitu dia biasa menulis namanya di akhir setiap karya-karya puisinya, bukanlah nama kemarin sore. Dalam “Melacak Jejak Puisi dalam Sastra NTT,” Yohanes Sehandi menulis bahwa nama dan pengaruh karya-karya sastra JDM sudah mulai dikenal dan dirasakan sejak tahun 1979. Bahkan imam itu disebut sebagai penyair kebanggaan NTT sekaligus penyair produktif NTT, generasi setelah Gerson Poyk.

Imam itu juga telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi religius, antara lain Doa-Doa Semesta, Puisi-Puisi Jelata, Doa-Doa Rumah Kita, Kupanggil Namamu Madonna, Puisi Anggur, dan Menjadi Manusia Kaya Makna.

Pastor JDM telah mencurahkan seluruh pikiran dan jiwa puitisnya dengan berkarya di dunia sastra. Kepenyairan John Dami Mukese memang tidak diragukan lagi. Puisinya penuh inspirasi yang juga kerap menjembatani pikiran-pikiran teologi yang rumit ke dalam bahasa dan rasa yang sederhana dalam konteks masyarakat Flores yang sederhana tempat imam itu menulis dan berefleksi.

Puisinya bagai Doa Litani dan Nyanyian Mazmur dalam bentuk baru dan lebih membumi. Puisi seperti “Natal seorang Petani”, “Natal Seorang Nelayan”, “Natal Buruh Kecil”, adalah sebagian kecil refleksi John Dami Mukese akan soal-soal yang berhubungan dengan dimensi religiositas masyarakat.

Kendati titik berangkat puisi John Dami Mukese lebih bernuansa Katolik, namun kemampuan untuk memilih dan memilah kata serta ketaatan pada struktur puisi menyebabkan puisinya dapat dinikmati oleh siapa saja dalam pengalaman religiositas yang beragam. Barangkali ini alasan yang cukup masuk akal, mengapa sajak-sajaknya berjudul “Doa-Doa Semesta,” yang ditulis dalam 20 bait, layak dan pernah dimuat di majalah sastra terkemuka “Horison” di tahun 1983.

Buku kumpulan puisi berjudul “Doa-Doa Semesta” yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah Ende itulah yang kemudian melejitkan nama JDM hingga ke tingkat nasional dan disebut sebagai representasi sastrawan kawasan Timur Indonesia: “Chairil Anwar”nya Indonesia Timur.

Di luar puisi dan kepenyairan, John Dami Mukese bukan hanya budayawan tapi sekaligus rohaniwan dan cendekiawan yang merayakan dunia tulis menulis sebagai tempat menumpahkan refleksi yang penuh harapan iman dan kasih, menggugat dan memberikan apresiasi pada kompleksnya kehidupan iman dan zaman masyarakat yang terus berubah.

Sejak belajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero Flores dan CPAF – University of the Philippines, John Dami Mukese telah biasa menuangkan gagasan-gagasan dalam tulisan di Media FOX. Dunia menulis dan keprihatinannya pada budaya literasi menempatkannya sebagai redaktur majalah mingguan Dian dan Flores Pos. Ia juga editor untuk penerbit Nusa Indah Ende.

Sebagai budayawan sekaligus rohaniwan dan cendekiawan, ia merekam kehidupan masyarakat dari bilik-bilik sunyi, tidak hanya lewat syair puisi tapi juga historiografi, karena John Dami Mukese sejatinya adalah pencinta sejarah dan anugerah.

Dia juga editor untuk buku “Indahnya Kaki Mereka” yang bercerita tentang kehidupan misionaris tempo dulu dalam tiga seri buku. Buku ini cukup menggambarkan minat dan keseriusan John Dami Mukese, karena di sana ia tidak saja bertindak sebagai editor, juga sebagai pewawancara sekaligus menuliskan kembali hasil wawancaranya. Perspektif sejarahnya dengan mudah dijumpai dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan termasuk memilah struktur penulisan pasca wawancara. Ia menulis bersama sejarawan Edu Jebarus.

Selain menulis puisi, mantan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Dian, itu aktif mengisi kolom opini di sejumlah media online di NTT. Salah satunya Mengubah Penjara Menjadi Panggung Kemerdekaan” yang dipublikasikan di provinsisvdende.weebly.com.

John Dami Mukese telah menjadi “sumur” tempat generasi baru menimba “oase”, “air inspirasi”. Boleh dibilang tak mungkin menulis atau membicarakan puisi NTT saat ini tanpa menyebutkan Penyair John Dami Mukese.

Begitu pun, tak mungkin melewatkan refleksi Natal dalam konteks masyarakat petani dan nelayan, tanpa terlebih dahulu menyimak puisinya tentang “Natal seorang Petani” dan “Natal seorang Nelayan”. Begitu sederhana, namun menancap di kepala untuk diingat.

Pastinya, kepergian Pastor John merupakan kehilangan bagi dunia sastra NTT khusunya dan Indonesia pada umumnya. Namun gairah sastra yang ditorehkan melalui karya-karya puisinya akan terus dikenang dan diapresiasi para pencinta dunia sastra. (Pastor Josafat Kokoh Prihatomo Pr)

Tulisan pada halaman facebooknya dari Pastor Josafat Kokoh Prihatomo Pr ini telah mengalami sedikit perubahan dan editan atas izin imam itu untuk diterbitkan dalam PEN@ Katolik

Tinggalkan Pesan