145_4587

PEKAN BIASA XXIX (H)
Santa Margaretha; Santo Gaudensius; Beato Yohanes Angel Poro, Imam; Santo Krisantus dan Daria

Bacaan I: Rm. 6:12-18
Mazmur: 124:1-8; R:8a
Bacaan Injil: Luk. 12:39-48

Pada suatu ketika berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Camkanlah ini baik-baik! Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Kata Petrus: ”Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan: ”Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

Renungan

Rasul Paulus menunjukkan dua macam perhambaan. Hamba dosa adalah hidup yang dikuasai oleh berbagai keinginan fana yang merusak dan membawa kematian. Sedangkan hamba kebenaran adalah hidup yang ditandai dengan segala tindakannya berada di bawah kasih karunia Allah yang memerdekakan. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, Yesus membebaskan manusia dari penjara dosa dan kuasa maut (bdk. Rm. 6:18). Oleh karena itu, manusia memperoleh hidup dan dituntun dalam kebenaran Allah yang menyelamatkan. Untuk itulah Paulus mengingatkan agar tetap taat setia dan menyerahkan diri kepada Allah sebagai pilihan yang memerdekakan.

Hamba kebenaran dikemukakan oleh Yesus dalam sikap seorang hamba yang siap siaga menanti dan melayani tuannya. Sikap menanti dan siaga sebagai sebuah tindak kesetiaan iman. Ada banyak hal yang dapat merongrong kesetiaan beriman. Sikap egois, nafsu serakah, kekuasaan, dsb, menjadi tantangan untuk setia pada Allah dalam semangat kerendahan dan penyerahan diri (bdk. Luk. 12:45). Kesetiaan beriman kepada Allah membawa pada kebahagiaan dan keselamatan yang menjadi pilihan dan tujuan utama hidup manusia.

Apakah kita tetap setia beriman meskipun berhadapan dengan tantangan dan persoalan hidup?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau menghendaki agar aku selamat dan bahagia. Semoga aku tetap setia beriman kepada-Mu dan mewujudkan iman itu di tengah dunia. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan