Koperasi

Oleh Valery Kopong

Beberapa koperasi yang saat ini sedang beroperasi, umumnya “dilahirkan” dari lingkungan Gereja. Adanya koperasi yang hadir oleh peran imam, menunjukkan kepekaan imam yang tidak hanya memiliki keahlian dalam berkhotbah dan menafsirkan Kitab Suci tetapi membangun kesejahteraan umat melalui koperasi.

Koperasi menjadi benteng kekuatan ekonomi bagi para anggotanya dan sekaligus memberikan proteksi bagi anggota dari jeratan rentenir. Mengapa beberapa imam Katolik memberikan penyadaran tentang ketahanan ekonomi dan membangun kesejahteraan melalui koperasi? Seberapa jauh koperasi memberikan dampak pada kehidupan bagi anggotanya?

Tulisan ini bertitik tolak pada pengalaman pendirian Koperasi Madani. Pada tahun 2004, sebelum menjadi paroki di tahun 2012,  Stasi Gregorius Agung, Kota Bumi, Tangerang, mendapat angin segar dari Pastor Johanes Sudrijanta SJ yang mau mengumpulkan beberapa umat yang pernah berkecimpung di koperasi.

Ajakan ini bertujuan untuk mendirikan koperasi di lingkup Stasi Santo Gregorius sebagai bentuk kepedulian imam itu terhadap ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi umat yang saat itu hidup dalam paguyuban iman sebuah stasi.

Setelah ada kesepakatan berdirinya Koperasi Madani, seluruh administrasi termasuk ijin atau badan hukumnya diselesaikan. Cukup lama Koperasi Madani berkantor di Stasi Gregorius. Tetapi dalam perkembangan lanjut, dirasa bahwa koperasi bisa berkembang lebih pesat bila harus keluar dari lingkungan gereja. Saat itu, Pastor Maximianus Sriyanto SJ yang menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki Santa Maria Tangerang meminta agar Koperasi Madani keluar dari lingkungan gereja.

Pengurus pun mencari tempat strategis untuk dikontrak. “Ruang terbuka” itu memberikan peluang bagi Koperasi Madani untuk menjaring anggota-anggota baru tanpa memandang latar belakang primordial. Pergerakan jumlah anggota dari hari ke hari mengalami kenaikan yang signifikan. Sampai saat ini jumlah anggota Koperasi Madani sebanyak 1.361 orang dan jumlah simpanan anggota sebesar 2.359.679.491,00.

Koperasi Kredit (Credit Union) Madani itu dibentuk tanggal 19 Desember 2004 dengan bidan Pastor Sudrijanta. Koperasi Kredit Madani berubah menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Madani karena di saat pengurusan ijin koperasi itu diminta menyetorkan dana jaminan sebesar Rp 15.000.000 dan jika tidak memiliki dana sejumlah itu sebaiknya tidak mendirikan Koperasi Kredit tetapi Koperasi Serba Usaha. Akhirnya tepat tanggal 17 Juni 2010  KSU Madani memperoleh ijin  atau badan hukum dengan Nomor 518/32/BH/DIS-KUKM.

Koperasi: Wadah Perjumpaan

Gereja semakin menyadari diri bahwa pewartaan Kabar Gembira saat ini tidak harus menggunakan label keagamaan karena label itu justeru menimbulkan jarak sosial yang jauh yang akhirnya akan menemukan titik buntu komunikasi antarumat beragama. Dalam kehidupan masyarakat yang plural, tuntutan membangun komunikasi berarti masing-masing orang harus keluar dari dirinya untuk menjumpai yang lain. Martin Heidegger pernah berkata, dalam membangun relasi yang baik, “aku harus keluar dari diri dan berjumpa dengan ‘aku-ku’ yang lain.”  Relasi yang dibangun antarumat beragama saat ini terasa sedikit mengalami benturan, karena setiap orang melihat agama masing-masing sebagai titik pembeda bahkan pemberi jarak pada pola relasi itu.

Melihat kondisi seperti ini, perlu dicari wadah yang tepat dan dilihat sebagai titik jumpa antara orang-orang yang memiliki label agama yang berbeda. Penulis melihat, semakin banyak anggota koperasi dengan latar belakang yang berbeda mengindikasikan bahwa proses menyatukan dan terutama membangun komunikasi yang intens bisa terlaksana secara baik.

Pernah saya bertanya pada seorang anggota Koperasi Madani yang beragama Islam. “Mengapa ibu bergabung dengan Koperasi Madani?” Dengan penuh keluguan ibu ini menjawab bahwa dia memilih menjadi anggota Koperasi Madani karena “masih percaya akan pengelolaan koperasi yang dilakukan oleh orang Katolik yang dikelola secara baik, jujur dan transparan.”

 

Mendengar pengakuan tulus ibu Muslim itu, hatiku bergidik diam. Benarkah koperasi-koperasi yang dikelola orang Katolik masih mempertahankan nilai-nilai kejujuran? Melihat dan menyaksikan beberapa koperasi “bodong” yang bergeliat mencari nasabah dan setelahnya dana yang dikumpulkan itu dibawa kabur, memberikan kesimpulan sederhana bahwa koperasi-koperasi yang lahir dari “Rahim Gereja” masih mempertahankan nilai kejujuran sebagai benteng kuat dalam membangun kepercayaan publik.  Kejujuran itu ibarat “fatamorgana” yang sayup kelihatan tetapi cukup berpengaruh terhadap ruang kepercayaan publik akan kredibilitas diri.

 

Kejujuran menjadi daya tarik tersendiri dan bahkan menjadi titik penentu dalam menggaet anggota-anggota baru untuk masuk dalam kehidupan berkoperasi. Koperasi, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan kegiatan inti pewartaan Gereja tetapi memberikan pengaruh kepada orang-orang sekitar.

 

Di sini, koperasi juga menjadi wadah perjumpaan bagi orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda. Ketika mereka bertemu di bawah “payung koperasi,” seakan masing-masing pribadi melepaskan identitas primordial dan dengannya komunikasi berjalan secara natural. Koperasi menjadi media pewartaan paling baik tentang pelayanan penuh cinta kasih seperti yang diwartakan oleh Yesus.***

Tinggalkan Pesan