suasana misa

Santo Paulus dari Salib mendirikan Congregatio Passionis Iesu Christi (Kongregasi Pasionis, CP) dengan tujuan supaya ada orang yang mati bagi dunia dan hidup hanya bagi Allah. Sebagai nafiri, mereka akan pergi ke segala penjuru dunia untuk membangkitkan orang pendosa dengan mewartakan sengsara Yesus Kristus, karya terbesar dan mengagumkan dari cinta kasih Allah.

Pastor Martinus Jeruit CP berbicara dalam homili Misa Syukur atas rahmat dari Santo Paulus dari Salib, yang dirayakan oleh Keluarga Besar Kongregasi Pasionis Pontianak bersama umat dan para biarawan dan biarawati yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, di Gereja Santo Hironimus Tanjung Hulu Pontianak, Kalbar, 19 Oktober 2017. Orang kudus itu meninggal di Roma, 18 Oktober 1775.

“Semoga kita semakin menyadari makna di balik lambang Kongregasi Pasionis, di mana kita mengikuti Yesus untuk menjadi pewarta sabda salib-Nya. Passio kita tidak hanya rasa sakit. Passio kita saat ini ialah menghadapi setiap tantangan yang muncul dari diri kita masing-masing, karena justru dalam setiap tantangan itulah kita menemukan apa yang dialami oleh Yesus sendiri ketika Ia harus mengorbankan diri-Nya untuk hidup kita,” lanjut Pastor Jeruit.

Imam itu lalu mengajak Keluarga Pasionis untuk menghayati semangat Pasionis dan segala sesuatu sebaik mungkin. “Dalam nama Yesus Kristus di salib, kita yakin bisa menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia,” tegas Pastor Jeruit yang didampingi konselebran Pastor Pius Barces CP, Pastor Gregorius Sabinus CP, Pastor Damianus Juin CP, Pastor Amsori CP, dan Pastor Edmund Nantes OP.

Buku pengantar Misa itu menceritakan bahwa Paulus Fransiskus, nama kecil Santo Paulus dari Salib,  lahir di Ovada, Genoa, Italia Utara, tanggal 3 Januari 1694, sebagai anak kedua dari 16 anak dari Lukas Danei, seorang pedagang kain yang kaya raya dan sangat baik. Bersama isterinya,  Anna Maria Massari, mereka menjadi teladan bagi keluarga-keluarga Kristen di Ovada.

Di bawah bimbingan orangtuanya, Paulus bertumbuh dewasa menjadi seorang yang beriman teguh. Semenjak kecil ia sudah diarahkan oleh ibunya untuk menghayati penderitaan Kristus. Apabila ia menangis karena luka-luka kecil di badannya, ibunya selalu mengatakan bahwa Yesus dahulu menderita luka-luka yang jauh lebih berat.

Tahun 1720, Paulus mengalami penampakan ajaib. Tiba-tiba nama Yesus dengan huruf putih serta gambar salib tertera pada bagian dada jubah hitamnya. Penampakan ajaib itu terjadi tiga kali. Pada penampakan ketiga, Bunda Maria berpesan agar dia mendirikan tarekat religius yang khusus menghayati Sengsara Kristus dan meningkatkan kebaktian kepada-Nya. Anggota-anggota tarekat itu pun diminta berpakaian seperti yang tampak dalam penglihatan itu.

Tanggal berdiri CP adalah 22 November 1720 saat Uskup Alessandria memberikan kepada Paulus sebuah jubah hitam Pasionis. Setelah menerima jubah itu Paulus menyendiri di sebuah bilik gereja San Carlo di Castellazzo selama 40 hari (23 November 1720 – 1 Januari 1721) dan menulis Regula Kongregasi Pasionis.

Menurut Pastor Jeruit, jubah hitam melambangkan tanda perkabungan. “Maria dalam penampakan itu mengartikan warna hitam sebagai tanda perkabungan. Sang Bunda berkabung karena sengsara Putranya, terlebih karena kematian Putranya di salib untuk menebus dosa kita. Putranya wafat dan karena itu, Yesus tidak ada di dunia bersama bunda-Nya karena Ia harus turun ke tempat penantian, masuk dalam kegelapan, ketiadaan, dan kehampaan.”

Selain menghayati salib dan sengsara Yesus, Pasionis meletakkan cinta kasih persaudaraan sebagai  identitas dalam kongregasinya. Dalam kongregasi itu, lanjut imam itu, setiap anggota saling mendukung, saling menyapa, saling berbagi, karena dalam kasih persaudaraan tidak ada perbedaan, semua dipanggil melakukan kehendak Allah.

Tahun 1727, Paulus ditahbiskan menjadi imam, dan menjadi pengkhotbah yang disukai umat. Biara pertama didirikannya di Monte Argentaro. Setelah lama berjuang mewujudkan pesan Bunda Maria, tarekatnya diakui sah oleh Takhta Suci. Setelah itu Paulus giat mendirikan biara di berbagai tempat hingga 11 biara. Selain tarekat untuk para imam, di tahun 1771 Paulus mendirikan Tarekat Suster-Suster Passionis. (mssfic)

Pastor Martinus Jeruit CP
Pastor Martinus Jeruit CP

lambang pasionis (1)st. yohanes dari salib 2

Bagikan
Artikel sebelumSabtu, 21 Oktober 2017
Artikel berikutPajak

Tinggalkan Pesan