Paus dan Metodis1

Para teolog Metodis dan Katolik bertemu di luar Roma minggu ini untuk memperingati 50 tahun berlangsungnya kelompok dialog ekumenis pertama mereka setelah Konsili Vatikan II. Sesi pertama dari Komisi Internasional Katolik-Motodis itu diadakan di kota berbukit Ariccia itu di bulan Oktober 1967.

Tanggal 19 Oktober 2017, Paus Fransiskus bertemu dengan anggota-anggota Komisi itu saat ini bersama para pemimpin Dewan Metodis se-Dunia. Saat itu Paus mengatakan bahwa setengah  abad dialog telah “membebaskan kita dari keterasingan dan kecurigaan dan membantu kita untuk saling mengenal sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.”

Dalam pembicaraan dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Uskup Metodis Afrika Selatan Ivan Abrahams yang bertugas sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Metodis se-Dunia memuji cara Paus Fransiskus menjangkau generasi muda. “Dia adalah ‘mercu suar pengharapan’ dan ‘seseorang yang mewujudkan persatuan yang sedang kita upayakan untuk dijalani,’” katanya.

Namun, meski Abrahams menegaskan bahwa kerja sama praktis mengenai isu-isu seperti migrasi, pengungsi atau perubahan iklim itu penting, konsensus dalam dialog teologis tetap penting karena “kita perlu mengklarifikasi beberapa hal agar kita bisa berjalan bersama.”

Abrahams juga mengangkat buah-buah konkret perjalanan ekumenis itu dengan mengatakan bahwa dua bahan utama yang menandai “perjalanan atau ziarah selama 50 tahun” ini adalah cinta dan kepercayaan yang telah dibangun dan tercermin dalam tujuh laporan bersama yang telah dihasilkan sejauh ini.

Salah satu tantangan besar, katanya, adalah bagaimana membuat buah-buah dialog itu “meresap ke tingkat lokal dan kita perlu melihat cara melakukannya dengan lebih efektif.”

Dikatakan, laporan dialog terakhir berjudul ‘Panggilan menuju Kekudusan: dari kemuliaan menuju kemuliaan’ menekankan bahwa upaya persatuan adalah “bagian mendasar dari misi dan kesaksian kita kepada dunia, untuk melihat terwujudnya doa imamat agung Yesus.”

Berbicara tentang situasi di negara asalnya Afrika Selatan, Abrahams mengatakan bahwa ia melihat kematian apartheid pada masa hidupnya dan “Saya berharap dalam hidup saya ini bisa melihat kenyataan bahwa ‘mereka menyatu’.”

Berbicara tentang model kepemimpinan Metodis, dia mengatakan tidak ada kompromi pada isu-isu utama dalam iman, namun “kita tidak menerapkan model ‘satu ukuran untuk semua’, dengan membiarkan berbagai konferensi otonomi membuat keputusan sendiri seputar misi dan kesaksian.

Ketika ditanya tentang upaya-upaya Paus Fransiskus untuk memberikan kepada konferensi-konferensi  para uskup Katolik setempat lebih banyak otonomi dalam mengambil keputusan pastoral, Abrahams mengatakan, “Saya pikir itu benar-benar merupakan satu-satunya cara, kalau kita berbicara tentang integritas Injil, karena setiap konteks budaya jelas-jelas berbeda.”(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus dan MetodisPaus dan Metodis2

Tinggalkan Pesan