Lukas 11 47 54

PEKAN BIASA XXVIII (H)
Santo Paulus dari Salib; Santo Petrus dari Alkantara

Bacaan I: Rm. 3:21-30
Mazmur: 130:1-6; R: 7
Bacaan Injil: Luk. 11:47-54

Sekali peristiwa, tatkala duduk makan di rumah seorang Farisi, Yesus berkata: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

Renungan

Yesus mengecam kepalsuan dan kemunafikan. Kecaman itu menjadi lebih tajam karena ditujukan terhadap mereka yang diberi mandat untuk menuntun hidup sesamanya namun tidak dilakukan, dengan rupa-rupa argumen yang menyesatkan. Kepalsuan dan kemunafikan semakin menyata dengan alasan nama baik, jabatan, kehormatan, dan demi popularitas. Kepalsuan berarti menutupi apa yang seharusnya dinyatakan adanya atau tidak menampilkan diri sejatinya. Sementara kemunafikan menyata dalam sikap, bicara, dan tindakan yang seolah-olah suci, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang dikemukakan. Terhadap sikap demikian kecaman Yesus menjadi aktual dan mendalam. Sikap dan tindakan hidup hendaknya didasari oleh iman. Iman mendorong kita untuk berbuat kebaikan dan memberikan kehidupan bagi sesama.

Paulus menyerukan tentang Allah yang satu dan universal. Kasih sayang Allah terbuka untuk siapa saja yang hidup berlandaskan iman. Kasih setia Allah telah nyata dalam diri Yesus Kristus yang menebus kita secara cuma-cuma. Atas dasar inilah selayaknya kita bergembira dan bermegah karena iman, bukan karena kecemerlangan intelektual, popularitas atau jabatan semata.

Apakah kita sungguh hidup jujur dalam beriman? Bersediakah kita berbuat baik bagi sesama di sekitar kita?

Tuhan Yesus, berilah aku sikap kejujuran dan ketulusan. Semoga aku mampu bersyukur atas kasih-Mu dalam hidup hari demi hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan