tesya 2

Paula Theresa Putri Jeremi Silewe adalah nama lengkap dari Tesya yang masih berusia 15 tahun, namun tanggal 11 Oktober 2017 dia resmi menggantikan posisi Budi Mardaya, S.E. M.Si, Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Keluarga di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Jakarta.

Dalam rapat bersama Menteri KPPA dan Sekretaris Menteri, semua Deputi dan semua Asisten Deputi, “Saya menyampaikan berbagai masalah tentang kesetaraan gender yang belum tercapai jika masih adanya stereotype masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Akibatnya hak-hak perempuan dan anak perempuan belum dapat terpenuhi secara keseluruhan. Perempuan dan laki-laki memang berbeda secara biologis namun jangan dibedakan kesempatan mereka,” kata Tesya.

Semua pengambil keputusan itu adalah anak muda. Tesya sendiri adalah murid dari SMAK Frateran Maumere Flores NTT. Memperingati Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada hari itu, 21 anak mengikuti program Sehari Jadi Menteri (SJM) 2017 yang berlangsung tanggal 6-12 Oktober 2017 di KPPA Jakarta. Posisi menteri itu diganti oleh Ayu Juwita (19) dari Sumatera Utara.

Tema program itu di tahun ini adalah “Stop Perkawinan Usia Anak.” Dalam rapat itu, Tesya yang merupakan anak pertama pasangan Yeremias Dewa dan Aseldi Lio Utapara menegaskan bahwa perkawinan usia anak adalah salah satu permasalahan yang berpengaruh pada hak-hak perempuan.

“Perkawinan usia anak membawa dampak yang sangat besar pada kemiskinan, putus sekolah dan kesehatan. Perkawinan usia anak disebabkan oleh banyak aspek antara lain budaya, ekonomi, lingkungan, kesenjangan sosial dan pergaulan bebas,” tegas Tesya seraya menambahkan bahwa hal itu sangat mempengaruhi tidak terpenuhinya hak anak perempuan.

Oleh karena itu, lanjut Tesya, para peserta SJM yang merupakan hasil seleksi dari 1800 anak Indonesia yang dilakukan oleh Plan International Indonesia, Aliansi AKSI, dan KPPPA, “harus mampu memberikan rekomendasi kepada KPPA agar dapat meminimalisir Perkawinan Usia Anak.”

Tesya mengakui materi yang diberikan pada kegiatan SJM sangat bermanfaat bagi kaum muda zaman sekarang yakni kepemimpinan transformatif, hak-hak yang harus didapat oleh anak, public speaking dan Pendidikan Ketrampilan Hidup Sehat.

“SJM merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung dan membuktikan bahwa anak perempuan bisa menjadi pemimpin. Kegiatan ini sangat bermanfaat agar pandangan masyarakat terhadap anak perempuan bahwa pekerjaannya hanya di rumah dapat berubah,” katanya.

SJM adalah implementasi dari gerakan BIAAG (Because I Am A Girl) yang dilakukan untuk mendukung anak perempuan agar dapat memimpin dan mengambil keputusan penting bagi mereka. Gerakan ini pun mendukung gerakan global yang dipimpin perempuan untuk hak anak perempuan dan kesetaraan gender. (Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan