lessons-from-the-parables-matthew-22-the-invitation-to-the-wedding-feast_1

Hari Minggu Biasa ke-28

15 Oktober 2017

Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu! (Mat 22:9)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Yesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

 

 

Tinggalkan Pesan