Perdana3
Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ, sebagai saksi, menandatangani berita acara serah terima kepemimpinan Keuskupan Pangkalpinang dari Mgr Yuwono kepada Mgr Sunarko

Sehari setelah pentahbisan, Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM merayakan Misa Perdana di Katedral Santo Yosep Pangkalpinang, 24 September 2017. Saat itu, uskup baru menerima serah terima kepemimpinan keuskupan dari Administrator Apostolik yang bertugas sejak 7 Mei 2016, dan tanda kesetiaan para imam di keuskupan itu.

“Serah terima ini terkait pastoral dan harta benda Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Dengan ini, masa kepemimpinan Administrator Apostolik Keuskupan Pangkalpinang Mgr Yohanes Harun Yuwono berakhir, dan masa kepemimpinan Mgr Adrianus Sunarko OFM sebagai kepala gereja lokal Keuskupan Pangkalpinang dimulai. Demikian berita acara ini dibuat dan ditandatangani Mgr Yuwono dan Mgr Sunarko serta disaksikan oleh Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Metropolit Palembang,” kata Sekretaris Keuskupan Pangkalpinang Pastor Ludgerus Lusi Oke Pr.

Kemudian Uskup Baru Pangkalpinang duduk di tahtanya (katedral) dan sekitar 100 imam diosesan dan imam tarekat yang berkarya di keuskupan itu, satu persatu maju, berlutut di depan uskup, dan mencium tangan atau cincin uskup, “sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan kepada uskup.”

Sekitar 4,000 umat menghadiri Misa yang masih diikuti oleh 10 uskup lainnya. Lebih dari 3000 umat harus mengikuti Misa dari luar katedral, bahkan banyak umat tidak mendapat kursi dan harus puas mengikuti Misa sambil berdiri. Umat yang hadir mewakili 43.027 umat sekeuskupan yang terbagi dalam 16 paroki yang tersebar di pulau-pulau di seluruh Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Kepulauan Riau, dan sebagai Provinsi Riau.

Dalam homili, Mgr Sunarko bercerita tentang Petrus, Sang Pemegang Kunci Surga, yang mengusulkan agar diadakan seleksi ulang penghuni surga berdasarkan 10 Perintah Allah, baru tahun 2017 surga sudah penuh. Setelah seleksi yang tertinggal hanya umat Pangkalpinang, yang diseleksi lanjut dengan satu pertanyaan terakhir, “Apakah moto uskup yang baru?” Yesus yang tidak bertanya kepada Petrus mengapa dia masih berada di surga padahal dia pernah menyangkal, lalu meminta Petrus memanggil ulang semua umat yang kena seleksi itu.

“Allah yang kita imani bukan sembarang Allah. Allah yang kita imani adalah Allah yang hobi-Nya bukan mencatat kesalahan, tetapi yang, saya yakin sekali, kalau bertemu pertanyaan pertama-Nya bukan “apa salah dan dosamu?” tetapi “apa deritamu?” karena Dia tahu kita banyak kelemahan. “Kalau Allah yang memberikan pengampunan berlimpah atau Allah yang berbelaskasih seperti itu kita jadikan Raja dalam dalam hidup kita, maka pulau-pulau akan bersukacita,” tegas Mgr Sunarko.

Uskup baru juga menunjukkan Paulus sebagai contoh orang yang sudah menjadikan Allah sebagai raja dalam hidupnya, serta menyebut Maria dan Fransiskus Asissi sebagai contoh orang yang bersukacita karena menjadikan Allah sebagai raja dalam hidup mereka.

Maria sebagai Bintang Laut dan Fransiskus Asissi tergambar dalam logo uskup baru itu. Di bawahnya ada gambar Kitab Suci dan Alam Ciptaan. “Sebenarnya ini pemikiran Santo Bonaventura yang mengajarkan dua kitab untuk mengenali Tuhan. Yang pertama, alam semesta. Dengan melihat alam, gunung, dan lautan kita bisa sampai kepada Allah. Tetapi kita orang berdosa. Alam itu rusak dan tidak bisa lagi membaca alam sebagai jalan menuju Tuhan. Yang kedua, Kitab Suci. Berkat Firman itu, kita bisa membaca jalan menuju Allah Pencipta.”

Uskup baru juga menyebut Almarhum Mgr Hilarius Moa Nurak SVD, yang sangat mengembangkan Kelompok Basis Gerejawi (KBG), di mana Kitab Suci menjadi sentral. “Mudah-mudahan kita melanjutkan ini dengan rajin membaca Kitab Suci, sehingga bisa bertemu dengan Tuhan dan alam semesta, yang kemarin dikatakan oleh Mgr Ignatius Suharyo ‘sedang menangis,’ menjadi tantangan bagi kita untuk dipelihara, sehingga kembali menjadi jalan untuk bertemu Tuhan.”

Sebastianus Longge dari Tembesi, Batam, hadir dalam Misa itu sebagai tanda syukur “karena Tuhan mengabulkan doa terus-menerus kami, agar mendapat uskup baru untuk menggembalakan kami, agar bisa mengalami kehidupan menggereja, dan agar KBG yang ditinggalkan Mgr Hilarius dapat kami alami kembali dengan kehadiran gembala baru yang sangat sederhana, cerdas, dan bijaksana ini.”

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, putra Ende yang sudah 20 tahun Batam itu, menjelaskan bahwa KBG tetap berjalan di wilayahnya “hanya mereka merasakan kehilangan dan kerinduan akan adanya gembala baru,” yang dia harapkan bersama-sama umat membangun Gereja partisipatif.

Valen, seorang putri OMK dari Pangkalpinang merasa sangat bahagia, “karena uskup baru sangat mirip kebaikannya dengan uskup sebelumnya.” Kepada media ini Valen ungkapkan harapannya agar uskup baru dekat dengan anak muda “sehingga tumbuh iman kami,” dan dia berjanji dalam kepemimpinan uskup baru itu “saya akan aktif dalam acara kumpul bersama dan sharing OMK.”(paul c pati)

Perdana8PerdanaPerdana7Perdana1Perdana5Perdana10Perdana11Perdana4Perdana9Perdana6

Tinggalkan Pesan