Yesus di Nain

Pekan Biasa XXIV (H)

Santo Yanuarius; Santo Theodorus; Santa Emillia de Rodat; Santo Fransiskus Maria dari Camporosso

Bacaan I: 1Tim. 3:1-13

Mazmur: 101:1-3b.5-6; R: 2b

Bacaan Injil: Luk. 7:11-17

Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata:”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! ” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan  dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi  besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan

Perjumpaan yang menghidupkan, demikianlah kita bisa menggambarkan kehadiran Yesus dalam bacaan Injil hari ini.Ia menghibur yang berduka, dan membawa kehidupan bagi yang mati. Di sekitar kita ada banyak orang yang “mati” dalam iman, harapan, dan kasih, oleh karena pengalaman kehidupan yang pahit yang mereka alami. Maka, sebagai pengikut Yesus kehadiran kita diharapkan dapat menghidupkan kembali iman, harapan, dan kasih saudara-saudara yang mengalami derita.

Hal itu hanya mungkin jika, kita menjadi teladan yang baik, sebagaimana kreteria yang dinasehatkan Paulus dalam bacaan pertama hari ini. Orang yang tak bercacat, perkawinan monogamy, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, mengajar dengan baik, bukan peminum/pemabuk, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai dan bukan hamba uang, tidak sombong, punya nama baik di luar, tidak bercabang lidah, tidak serakah, tidak memfitnah, dapat dipercaya dan hidup keluarga yang baik. Jika kreteria ini ada dalam diri kita, maka kehadiran kita betul-betuk akan membawa kehidupan baru bagi orang lain dalam setiap perjumpaan.

Tuhan Yesus, semoga dalam setiap perjumpaanku dengan orang lain, aku dapat menghidupkan mereka yang patah semangat dan dapat membantu yang menderita. Amin.

Sumber: Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

 

Tinggalkan Pesan