yesus-1menyembuhkan-orang-yang-mati-tangan-kanannya

PEKAN BIASA XXIII (H)

Santo Protus dan Hyasintus; Bedato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir

Bacaan I: Kol. 1:24-2:3
Mazmur: 62:6-7.9; R:8a
Bacaan Injil: Luk. 6:6-11

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: ”Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Renungan

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada Hari Sabat. Sebab mereka mencari-cari alasan untuk mempersalahkan Yesus” (Luk. 6:7). Sebaik apa pun pengajaran dan tindakan Yesus, bagi kaum farisi dan para ahli Taurat selalu salah dan negatif. Sekalipun Yesus berbuat baik dengan menyembuhkan orang sakit, mereka tetap menyalahkan Yesus. Mereka tidak mampu melihat segala kebaikan dari Yesus. Mereka kalah popular dari Yesus. Mereka iri hati kepada Yesus. Karena itu, mereka berusaha untuk menjatuhkan Yesus. Sikap mereka itu tidak mematahkan semangat pelayanan Yesus. Yesus tetap bersemangat untuk berbuat baik dan tetap tekun setia membuat orang lain selamat dan bahagia.

Mari kita belajar dari Yesus yang tetap tekun dan setia berbuat baik walaupun menghadapi tantangan dan rintangan bahkan terancam hidup-Nya. Di sisi lain, berusaha untuk melihat orang lain bukan sebagai saingan yang mengancam hidup dan usaha kita, sebaliknya menjadi inspirasi yang memperkaya hidup kita. Belajar untuk membangun positive thinking terhadap orang lain agar hidup kita semakin bahagia dan damai sejahtera.

Ya Yesus, utuslah Roh Kudus ke dalam hatiku, agar aku selalu melihat sisi baik dari sesamaku. Mampukanlah aku untuk tidak saling menghancurkan; sebaliknya bersama-sama membangun masyarakat bangsa dan negaraku agar semakin bahagia, damai, dan sejahtera. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan