Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat

PEKAN BIASA XXII (H)

Santo Petrus Klaver; Beato Frederik Ozanam

Bacaan I: Kol. 1:21-23

Mazmur: 54:3-4.6.8; R:6a

Bacaan Injil: Luk. 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: ”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Seorang pengacara Katolik berbagi pengalaman imannya. Setelah berprofesi belasan tahun sebagai seorang pengacara, dia menyadari tidak menemukan kebenaran dalam dunia hukum di Indonesia. Karena itu, akhirnya dia memutuskan untuk pensiun dini dari profesinya itu. Injil hari ini menampilkan kaum Farisi yang menegakkan peraturan dan hukum untuk menjamin tata hidup keagamaan dan tata hidup kemasyarakatan yang lebih baik. Di pihak lain, Yesus menegaskan sebaliknya. ”Putra manusia adalah tuan atas hari Sabat” (Luk. 6:5). Artinya, Yesus mengangkat kembali harkat dan martabat manusia. Harkat dan martabat manusia jauh lebih tinggi daripada segala aturan dan hukum. Hendaknya segala peraturan dan hukum seharusnya mengangkat dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan kita; bukan sebaliknya.

Mari kita menata aturan dan hukum di dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing. Dengan begitu kita melatih diri untuk mengutamakan martabat manusia daripada menegakkan aturan yang merendahkan, mengabaikan bahkan membunuh karakter dan cita rasa sebagai seorang manusia.

Ya Bapa, anugerahkanlah rahmat-Mu kepada para pemimpin bangsa dan agama serta para pembuat hukum, sehingga keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan manusia menjadi dasar segala aturan dan hukum yang berlaku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan