Mertua Simon

PEKAN BIASA XXII (H)

Santo Thomas Tzugi; Beato Bonaventura dari Forli, Imam

Bacaan I: Kol. 1:1-8
Mazmur: 52:10.11; R: 10b
Bacaan Injil: Luk. 4:38-44

Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: ”Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Renungan

Para imam, bruder, suster, dan frater selalu berpindah tugas dari satu tempat ke tempat yang lain. Mungkin hal yang sama kita alami juga. Bahkan kita dipindahkan ke tempat atau posisi yang tidak kita kehendaki. Suka atau tidak, diterima atau tidak, ini menjadi satu aspek yang mendasar dalam panggilan hidup sebagai seorang Kristiani yang siap diutus. Kesiapan diri untuk selalu berpindah tugas sesuai dengan kebutuhan Gereja dan masyarakat menjadi salah satu indikasi dari penghayatan ketaatan kita pada maksud dan rencana Allah. Jika direfleksikan secara serius hal ini menjadi salah satu kekuatan Gereja Katolik dalam meneruskan misi Yesus Kristus yang diembannya. Itulah pola yang diwariskan Yesus. ”Juga di kota-kota lain, aku harus mewartakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk. 4:43).

Berpindah tugas pelayanan dari satu tempat ke tempat yang baru bukanlah sebuah perkara yang mudah. Terutama ketika orang sudah merasa betah dan sudah diterima di tempat tugas tersebut. Menjadi semakin tidak mudah juga ketika orang tersebut sudah merasa terlalu tua untuk belajar dan menyesuaikan diri lagi di tempat yang baru. Apa yang bisa kita lakukan? Sebagai orang Katolik, kita patut bersyukur karena masih tetap ada anggota Gereja yang siap diutus ke mana pun untuk melayani umat Allah. Inilah semangat misioner yang diilhami Yesus sendiri di dalam setiap pengikut-Nya, termasuk kita yang hidup saat ini. Ke mana saja kita diutus, hendaklah kita pergi, dengan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita.

Tuhan Yesus, aku bersyukur karena Engkau telah berjanji untuk menyertai aku ke mana saja aku diutus. Semoga kesadaran iman ini menguatkan aku selalu dan semua orang. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan