DSCN7569[1]

Sembilan anak usia sekolah dasar dengan mengenakan busana adat dari sejumlah daerah di Indonesia nampak “bersatu dan bersama-sama” mengikuti prosesi persembahan, mengiring bahan persembahan ke depan altar, sambil diiringi tarian daerah.

Misa Lustrum Pertama (Hari Ulang Tahun ke-5) Paroki Santo Gregorius Agung, Kutabumi, Tangerang, yang berlangsung 3 September 2017, memang ditandai dengan ajakan Kepala Paroki Pastor Yustinus Sulistiadi Pr agar umat bersyukur atas Rahmat Tuhan dan memohon kepada Roh Kudus agar tetap menyertai seluruh umat “sehingga tetap bersatu dalam kebersamaan.”

Pastor Sulis mengajak umat agar terus membangun kebersamaan, walaupun umatnya terdiri dari beragam suku, Jawa, Flores, Batak dan Tionghoa, dan mewartakan nama Yesus “meskipun memiliki watak berbeda-beda seperti 12 rasul Yesus.”

Namun,  yang terpenting dalam pewartaan nama Yesus, tegas Pastor Sulis, adalah pertobatan, karena imam itu yakin, anggota dewan paroki, ketua lingkungan, ketua wilayah, dan seluruh umat “memiliki pengalaman yang manis dan pahit dalam hidup menggereja.”

Petrus, yang sejak awal menyangkal Yesus, jelas imam itu, kemudian dipilih menjadi pemegang kunci Kerajaan Allah. Demikian juga Judas. Awalnya dia sebagai pengkhianat, selanjutnya ia menjadi martir. “Maka ketika memilih menjadi pengikut Yesus, yang menjadi utama dalam hidup adalah pengorbanan dan pelayanan,” lanjut kepala Paroki Santo Gregorius Agung itu.

Patung Gregorius Agung ditampilkan dan diarak mengawali Misa. Prosesi pembukaan dari taman dosa di depan gereja hingga ke depan altar itu diikuti anggota dewan paroki, ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua kelompok kategorial, petugas liturgi dan Pastor Sulis serta Pastor Rekan Ignatius Wicaksana Pr itu.

Santo Gregorius berasal dari keluarga kaya raya dan memilih menjadi pelayan Yesus. Setelah memilih menjadi imam, ia dipilih menjadi Paus. Tokoh yang dikenal dengan lagu-lagu Gregorian itu adalah juga Pujangga Gereja yang sangat berpengaruh melalui tulisan-tulisannya.

Lustrum pertama paroki dengan jumlah umat lebih dari 8000 jiwa itu diawali dengan Pameran PSE selama tiga hari (1-3 September 2017), yang diikuti kelompok kategorial dan pegiat usaha ekonomi kreatif lainnya, dan koperasi.

Pemotongan kue ulang tahun paroki dilakukan di panggung hiburan di belakang gereja, disaksikan umat yang juga dihibur oleh Lisa Arianto. (Konradus R Mangu)

Tinggalkan Pesan