kerasukan setan

PEKAN BIASA XXII (H)

Santa Teresa dari Kalkuta; Santo Laurensius Glustiniani; Beata Maria MagdalenaStarace

Bacaan I: 1Tes 5:1-6.9-11
Mazmur: 27:1.4.13-14; R: 13
Bacaan Injil: Luk. 4:31-37

Sekali peristiwa Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: ”Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: ”Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: ”Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Renungan

Daya kekuatan Ilahi dalam diri Yesus sungguh luar biasa; baik melalui kata maupun tindakan-Nya. Si iblis pun mengakui Yesus sebagai yang kudus dari Allah. Si iblis takut dan terpental keluar ketika Yesus mengusirnya. Di manakah letak sumber kekuatan Yesus? Mengapa kita para pengikut-Nya tidak mampu melakukan itu semua? Apakah karena Dia manusia sekaligus Allah? Tapi bukankah kita juga memiliki unsur ilahi di dalam diri kita? Bukankah kita diciptakan sesuai dengan citra Allah? Ketika sang Pencipta menciptakan manusia pertama, Ia menghembuskan napas-Nya/Roh-Nya ke dalam diri manusia. Bukankah Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya? Lalu mengapa kata dan tindakan kita tidak sedahsyat Yesus?

Saudara-saudariku yang terkasih. Kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya dalam kekuatan Roh Kudus menjadi kunci kewibawaan kata dan tindakan Yesus. Yesus membuka peluang kepada setiap orang untuk belajar kepada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Dia juga menjadikan diri-Nya pokok anggur yang selalu mengalirkan rahmat untuk seluruh ranting dan cabang yang melekat erat padanya. Mari kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam hati kita masing-masing dengan cara berdoa dan membaca serta merenungkan Firman-Nya.

Ya Yesus Tuhanku, bimbinglah aku dengan roh-Mu agar aku tetap tekun dan setia menimba kekuatan dari-Mu sebagai sumber segala rahmat; sehingga aku pun mampu mengikuti Dikau sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan