Lembata

Kepala desa beragama Islam mengakui bahwa umat Muslim di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur di Kabupaten Lembata, NTT, merasa seperti ‘anak emas’, karena “setiap kali menyambut hari raya keagamaan, kami mendapatkan pelayanan yang istimewa dari umat Katolik.”

Kepala Desa Lamaau di Ile Ape Timur, Rajuni Welin, mengungkapkan hal itu dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik 31 Agustus 2017, saat Rajuni bersama warganya sedang menyiapkan lapangan di depan Kantor Camat Lamaau untuk pelaksanaan Sholat Ied dan tenda untuk Malam Takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha 1 September 2017.

Lazimnya di desa itu, menurut Rajuni, saat hari raya keagamaan umat Islam, “yang menjadi panitia untuk melakukan berbagai persiapan adalah sesama warga dari Agama Katolik, dan sebaliknya, bila umat Katolik menyambut Natal atau Paskah, umat Islam terlibat sebagai panitia, dengan melakukan berbagai persiapan agar umat Katolik menyiapkan diri menyambut hari raya itu.”

Menyambut Hari Raya Idul Adha kali ini, tegas Rajuni, “Yang melakukan berbagai persiapan di tempat ini adalah umat Katolik. Ketua panitia adalah Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Tokojaeng, Frederikus Daeng.” Hal seperti itu, lanjutnya, sudah biasa dilakukan “bahkan sudah menjadi tradisi di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur selama ini.”

Umat Islam dan Katolik di Ile Ape dan Ile Ape Timur, bahkan Kabupaten Lembata , menurut Rajuni adalah saudara. “Hubungan darah telah menjadikan umat beragama di daerah ini sebagai satu kesatuan dalam hidup bermasyarakat,” jelasnya.

Tahun ini, Desa Lamaau menjadi tuan rumah perayaan Idul Adha untuk umat Islam di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik di Kantor Camat Ile Ape Timur di Lamaau, 31 Agustus 2017, Kepala Seksi Pelayanan Umum (Kasie Yanu) Ibrahim Betan mengatakan bahwa di Ile Ape dan Ile Ape Timur, “umat Islam selalu menyambut hari raya keagamaan dengan cara merayakannya secara bersama-sama dari satu masjid ke masjid lainnya, dan tahun 2017 ini, Masjid Istiqlal Lamaau sebagai tuan rumah perayaan Idul Adha.”

Yang menarik adalah bahwa panitia persiapan menyambut hari raya itu adalah sesama warga yang beragama Katolik. “Yang mengatur semua kegiatan menyambut Hari Raya Idul Adha ialah umat beragama Katolik. Yang bangun tenda, menyiapkan lapangan untuk sholat ied, yang bangun tenda untuk acara malam takbiran, adalah umat Katolik. Ini telah menjadi tradisi di wilayah ini,” ujar Betan.

Malam takbiran tanggal 31 Agustus 2017, lanjut Betan, diisi dengan acara halal bi halal yang dimeriahkan dengan lomba qasidah, lomba praktik sholat bagi anak-anak, lomba pidato Idul Adha dan lomba Tilawatil Qur’an. (Emanuel Bataona)

Tinggalkan Pesan