IMG-20170829-WA0010

Nama asli anak perempuan itu adalah Henrika Kon Kian Moi. Dia lahir di Sebalau, Samalantan, Bengkayang, Kalimantan Barat, 14 Juli 1944, dari pasangan Kon Tet Lin (almarhum) dan Ng Mui Moi. Sebuah “demonstrasi” membuat keluarga non-Katolik itu mengungsi ke Singkawang.

Untuk membantu keluarganya, gadis itu bekerja di keluarga Katolik yang tinggal dekat gereja paroki. Kebaikan keluarga yang memperlakukannya seperti anak sendiri, membuat gadis itu tertarik masuk Katolik dan menjadi katekumen.

Tapi, 26 Agustus 2017, perempuan itu merayakan 40 tahun hidup membiara. Dia menjadi seorang rubiah dengan nama Suster Maria Klara OSCCap. Perayaan yang dipimpin oleh Uskup Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun OFMCap dengan konselebran Wakil Provinsial Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap, Pastor Cosmas Jang OFMCap dan Pastor Timotius Sinaga OFMCap itu sekaligus mengenang 25 Tahun berdirinya Biara Santa Klara Sarikan.

Gadis itu memang tidak berhenti sebagai katekumen, tapi dia dibaptis, dan tanpa pengetahuan orangtuanya dia masuk biara, karena tertarik hidup seperti Suster Fransiska yang mengajar dia waktu katekumen.

Masa postulat dimulai 1 Februari 1975 di Biara Providentia Singkawang. Setelah dua tahun, tanggal 4 Oktober 1977 Suster Klara mengikrarkan kaul perdananya di tangan Ibu Abdis yakni Suster Maria Gabriela OSCCap. Di tangan Ibu Abdis yang sama dia mengikrarkan kaul meriah 11 Agustus 1981.

OSCCap adalah singkatan dari Ordo Santae Clarae Cappuccinarum atau Ordo Santa Klara Kapusines yang sering disebut Para Rubiah Klaris-Kapusines. Ordo itu didirikan oleh Santa Klara yang berpusat di Kota Assisi.

Menurut catatan yang diperoleh PEN@ Katolik, Suster Klara sangat rajin dan ulet serta memiliki banyak bakat. Ia ahli berkebun, menjahit, memasak, beternak dan beberapa pekerjaan lain. Ia bekerja tak kenal lelah, meskipun sakit dia tetap bekerja. Cintanya kepada Yesus sangat besar dan dia sangat berdevosi kepada Bunda Maria. Ia mempunyai hati berbelaskasih di balik karakternya yang di permukaan nampak keras. Dia mengabdi sebagai pendoa mulai dari biara induk, Biara Providentia Singkawang.

Biara itu selama puluhan tahun pernah mengalami kegersangan akan panggilan. Namun berkat doa para rubiah klaris itu, tunas-tunas muda mulai berdatangan dari berbagai pelosok Nusantara, sehingga mulailah dipikirkan untuk mendirikan biara baru.

Berkat Penyelenggaraan Ilahi, Yoseph Tjahajadi (almarhum) memberikan sebidang tanah bekas perkebunan coklat, kelapa dan peternakan ikan. Mgr Bumbun dan pimpinan biara menyambut baik dan setelah survei oleh pimpinan biara waktu itu, Suster Maria Gabriela OSCCap dan Suster Maria Imanuel OSCCap, diputuskan pembangunan biara baru di Desa Terap, Kecamatan Toho, Sarikan.

Pembangunan yang diawasi Bruder Leopold OFMCap (almarhum) selesai dalam setahun, tepatnya 15 Agustus 1992, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan Tjahayadi bersama isterinya, Tresnatan. Biara dengan nama Biara Santa Klara Sarikan itu diberkati oleh Mgr Bumbun dengan status “Ad experimentum”.

Tanggal 24 Agustus 1992 tiga suster dari Biara Providentia Singkawang diutus untuk memulai hidup kontemplatif di tengah-tengah perkebunan itu. Mereka disebut pionir atau perintis Biara Santa Klara Sarikan. Suster-suster itu adalah Suster Maria Veronika OSCCap, Suster Maria  Skolastika OSCCap dan Suster Maria Leatitia OSCCap.

Jumlah pun bertambah, namun tantangan, kesulitan dan cobaan memaksa beberapa rubiah kembali ke biara induk di Singkawang. Perubahan dan pergantian terus dijalankan, karena beberapa suster memilih kembali ke biara induk.

Status eksperimen pun tidak dapat dipertahankan, karena sudah melampaui batas yang ditentukan. Maka, perlu ambil keputusan tegas, apakah terus mempertahankan hidup kontemplatif di Sarikan atau tidak. Kapitel 27 Februari 2003 pun memutuskan, Biara Santa Klara Sarikan tetap dipertahankan dan akan dimulai proses kemandirian biara secara kanonik. Tanggal 12 April 2003, Mgr Bumbun sebagai Uskup Agung Pontianak mengumumkan pencabutan resmi status eksperimen biara itu. Artinya, proses kemandirian harus segera dimulai dan keanggotaan harus ditambah.

Para rubiah pun diminta mengajukan lamaran dengan pilihan bebas untuk tinggal di biara Sarikan. Hasilnya, 12 suster memilih tinggal di sana. Mereka diutus lewat Misa 19 Januari 2004 yang dipimpin Mgr Bumbun. Proses kemandirian pun diurus ke Tahta Suci, dan tanggal 21 Januari 2007 diresmikan kemandirian biara itu.

Sebanyak 12 suster itu masih ada yang datang dan pergi. Namun dari jumlah 10 suster yang ada di biara itu sekarang ini, suster yang merayakan 40 tahun hidup membiara 26 Agustus lalu masih tetap di sana, Suster Klara OSCCap. (Suster Maria Seba, berdasarkan informasi dari Bruder Vianney MTB)

IMG-20170829-WA0009

biara sarikan 2Sr. Maria Klara OSCCap

 

 

 

Tinggalkan Pesan