Celakalah kau hai ahli2 Taurat

PEKAN BIASA XXI (H)

Beato Ghabra Mikael Imam dan Martir; Santo Heribertus Uskup; Guarinus dan Amadeus

Bacaan I: 1Tes. 2:9-13
Mazmur: 139:7-12b; R:1a
Bacaan Injil: Mat. 23:27-32

Pada waktu itu Yesus bersabda: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!”

Renungan

Kata orang, ”Lebih baik teguran yang nyata-nyata, daripada kasih yang tersembunyi.” Namun, tidak mudah menegur orang, apalagi jika teguran selalu dipandang sebagai tanda ketidaksenangan, kecemburuan, dan usaha untuk menghancurkan orang lain. Terkadang orang lebih mementingkan apa yang tampak secara luaran baik-baik saja.

Paulus mengungkapkan tegurannya kepada umat di Tesalonika atas hal-hal yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebenaran Injil. Akan tetapi, dengan jelas Paulus mengungkapkan hal itu atas dasar kasih, bagai kasih seorang bapak kepada anaknya. Paulus mengajarkan dan meneladankan suatu cara menegur atau menasihati orang atas dasar kasih, bukan atas dasar sikap cemburu dan maksud buruk lainnya. Demikian pula Yesus terang-terangan mengecam perilaku para ahli Taurat dan kaum Farisi yang hanya mementingkan hal-hal luaran. Mereka mengira bahwa jika hal-hal luaran sudah baik maka hidup mereka sudah selamat. Yesus menyebut kemunafikan mereka sebagai hal-hal yang mencelakakan.

Apakah yang Anda buat jika melihat saudara atau seseorang menjalani hidupnya ke arah yang mencelakakan dirinya? Jiwa yang menginginkan keselamatan akan mencari cara yang baik dan tepat untuk membimbing orang.

Ya Allah, berilah aku keberanian untuk menegur dan menasihati dengan penuh kasih sesamaku yang berbuat salah. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan