IMG_8124

“Kaum muda harus mampu menjadi pewarta di dunia maya, bukan hanya bagi kepentingan sendiri, tapi menjadi Misionaris-Misionaris Online Allah,” kata Ketua Desk (kantor) Kepemudaan dari Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) Mgr Joel Zamudiko Baylon ketika memberikan beberapa refleksi milenium Asia sesuai realitas dan tantangan yang dihadapi OMK.

Mantan Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Filipina itu tampil sebagai pembicara plenary session terakhir pada Asian Youth Day ke-7 di Jogja Expo Centre, 5 Agustus 2017. Dalam paparan, Mgr Baylon menyebut OMK Asia sebagai bagian dari Generasi Millennial dan meminta mereka merefleksikan cara membawa diri sebagai OMK dalam konteks Asia dengan tidak melupakan dunia nyata.

Saat konferensi pers hari itu, Uskup Legazpi, Filipina, itu menegaskan bahwa dalam plenary session dia memutuskan fokus pada pengaruh teknologi modern, khususnya media sosial, karena itu memengaruhi pikiran dan sikap Generasi Millennial Asia saat ini. “Orang muda sangat dipengaruhi oleh internet. Hidup mereka praktis berpusat di sekitar dunia maya. Saya melihat ini sebagai tantangan dan kesempatan besar bagi Gereja untuk menjangkau kaum muda.”

Bahkan uskup itu melihat internet dan media sosial telah mengambil alih peran pendidikan atau formasi kaum muda, padahal internet bisa menjadi sumber kesulitan dan bahaya bagi kaum muda karena mereka dipengaruhi pornografi yang mudah diakses di internet. “Mereka, terutama anak kecil, bisa menjadi korban seks cyber, bahkan dipengaruhi oleh ideologi radikal yang menyebarkan kekerasan.”

Menyadari bahwa dunia maya merupakan tempat atau zona nyaman kaum muda, di mana mereka bisa memiliki klub atau teman yang dipercaya, uskup itu mencoba melihat Generasi Millennial Asia itu dari perspektif paroki dan mengusulkan agar paroki menggunakan sarana itu, sehingga OMK dapat juga bertemu dengan Gereja di sana. “Gereja hendaknya menggunakan kategori yang membuat Generasi Millennial merasa betah,” tegas uskup.

Santo Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus telah menggunakan internet bahkan memiliki akun Tweeter yang membuat mereka bisa menjangkau kaum muda dan, “di sanalah mereka bertemu dengan kaum muda,” dan “di sanalah mereka mengirim pesan bagi kaum muda.”

Mgr Baylon menegaskan banyak cara menjangkau kaum muda, dan Gereja pun merupakan tempat pertemuan orang-orang. “Jika OMK merasa nyaman di internet atau di dunia maya, Gereja pun terus bertanya, apakah OMK akan nyaman kalau diundang ke Gereja, dapatkah mereka menemukan Gereja sebagai komunitas yang ramah?”

Ketika membuka akun Facebook, OMK akan menjawab permintaan untuk menjadi teman atau memberi tanda suka pada postingan teman. “Gereja juga semacam dunia, yang tidak benar-benar maya, tapi yang mengajak orang menjadi teman dan meminta mereka menyukai usaha umat untuk membangun perdamaian, menjangkau orang miskin, dan membuat orang nyaman dengan kesulitan dan cobaan mereka. Gereja hendaknya menjadi seperti web yang disukai OMK dan membuat OMK merasa nyaman,” kata Mgr Baylon.

Dalam plenary session, Mgr Baylon meminta OMK mendengarkan Bapa Suci yang menantang mereka untuk terus berdialog dengan Gereja, sama halnya dengan Gereja yang terus menjangkau OMK dalam dialog. Dengan dialog, “kita belajar saling menghormati, termasuk dengan orang asing, imigran, dan orang dari budaya dan agama berbeda,” kata Mgr Baylon seraya berharap OMK belajar dari Gereja yang bersedia dan terbuka untuk berdialog.

Mgr Baylon menegaskan, Gereja perlu menemani kaum muda. “Gereja perlu membiarkan OMK merasa ada sesuatu yang perlu mereka sampaikan kepada kehidupan dan aktivitas Gereja, bukan hanya Gereja yang selalu memberi tahu kepada OMK apa yang harus mereka lakukan, bagaimana OMK harus berperilaku. Penting bagi Gereja mendengarkan OMK.”

Menjawab pertanyaan PEN@ Katolik, Ketua Komisi Kepemudaan FABC itu menegaskan, meski internet  dan media sosial jadi persoalan besar Generasi Millennial seperti tergambar dalam AYD7, namun FABC tidak memiliki desk khusus untuk media sosial, karena “situasi dan realitas berbeda di setiap negara.” Namun, saran pembentukan desk khusus internet atau media sosial di FABC akan dibawanya dalam seminar dan konferensi di FABC. (paul c pati)

 

Tinggalkan Pesan