IMG_8149

Dalam sebuah Misa saat Asian Youth Day ke-7 di Yogyakarta, homili seorang uskup mampu menguatkan iman seorang peserta yang kemudian mengatakan bahwa kini dia tidak takut untuk pulang ke Mongolia dan memberi kesaksian hidup serta menunjukkan kepada masyarakat siapa itu Orang Muda Katolik (OMK).

Monkhor Bolortuya, peserta dari Mongolia berbicara dengan PEN@ Katolik di hari terakhir Days In Venue AYD 7 di Jogja Expo Centre, 5 Agustus 2017. Sebelumnya dia jadi pembicara konferensi pers bersama Mgr Joel Z Baylon dari Komisi Kaum Muda Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) dan Wregas Bhanuteja, sutradara film dan penulis skenario yang mendapatkan penghargaan film pendek terbaik di Semaine de la Critique, Festival Film Cannes 2016, dengan film pendeknya berjudul Prenjak.

“Homili itu sangat menarik dan berkesan bagi saya, karena di negara kami banyak orang belum mengenal Yesus dan agama Katolik, apalagi adanya contoh-contoh hidup yang jelek ditunjukkan oleh umat dari beberapa agama lain yang non-Buddha,” kata Monkhor.

Menurut Monkhor, AYD 7 sangat penting bagi OMK Mongolia “karena ini pertama kali kami hadiri pertemuan besar OMK. Very Amazing.” Dari Mongolia, jelasnya, datang 21 peserta  termasuk dua imam dan satu suster. Dari 13 OMK, 5 di antaranya pria dan 13 wanita.

Gereja Mongolia, jelasnya, masih sangat muda. “Umatnya hanya 1228 orang, sekitar 500 di antaranya kaum muda. Namun, beberapa anggota OMK tidak lagi ke gereja, maka saya akan pulang untuk memberi inspirasi dan mengajak mereka kembali ke Gereja,” lanjut Monkhor.

Tahun ini Gereja Mongolia berusia 25 tahun. Di negara itu hanya ada satu uskup yakni Prefek Apostolik Ulaanbaatar, Mongolia, Mgr Wenceslao Padilla,  dari Filipina. Tahun 2016, prefektur apostolik itu memiliki imam pribumi Mongolia pertama, Pastor Joseph Enkh Baatar.

“Mimpi kami adalah memiliki lebih banyak imam dan religius Mongolia, karena kita belum ada suster dari Mongolia, katanya seraya mengatakan ada seorang imam Indonesia berkarya di Mongolia yakni Pastor Mario Gaspar SDB.

Dalam konferensi pers, Monkhor menceritakan pengalaman saat anak-anak yang tidak bisa berdoa dengan tanda salib, tapi dalam hati, dan saat muda tak bebas berdoa di masyarakat. “Sangat sulit, karena saat itu agama Katolik belum diterima di Mongolia,” katanya.

Gereja Katolik di Mongolia adalah bagian Gereja Katolik seluruh dunia di bawah kepemimpinan Paus. Umat Katolik di sana dilayani di beberapa gereja yakni di ibukota Ulaanbaatar dan gereja-gereja di Darkhan, Arvaikheer, Erdenet serta stasi-stasi misi yang mulai tumbuh.

Gereja Katolik Roma pertama kali diperkenalkan abad ke-13 saat kekaisaran Mongolia, namun hilang karena matinya Dinasti Yuan tahun 1368. Kegiatan misionaris baru berlangsung setelah Perang Candu pertengahan abad ke-19. Sebuah misi didirikan untuk Mongolia Luar, memberi Mongolia yurisdiksi Katolik pertama, namun semua karya berhenti dalam waktu satu tahun saat rezim komunis datang berkuasa.

Dengan diperkenalkannya demokrasi tahun 1991, misionaris Katolik Roma datang kembali membangun Gereja dari nol. Konstitusi Mongolia 1992 menjamin kebebasan beragama dan tahun itu seorang imam datang memperkenalkan Yesus dan agama Katolik. Tahun 2016, terbentuk Prefektur Apostolik, dengan seorang uskup, enam gereja. Hubungan diplomatik Takhta Suci-Mongolia terjalin sejak 4 April 1992.

Menurut Monkhor, Gereja Katolik berkembang di Mongolia hanya karena contoh-contoh yang baik karena mereka menyadari bahwa “Yesus memanggil mereka untuk menunjukkan contoh-contoh yang baik.”

Sekarang, lanjutnya, iman OMK semakin kuat. “Terkadang hanya satu anak Katolik di kelas, tapi mereka berusaha keras memperkenalkan Yesus pada teman-teman, dan menunjukkan contoh yang baik di paroki. OMK memang menghabiskan banyak waktu di gereja, khususnya dalam karya amal kasih. Maka, selesai belajar kami ke gereja mengikuti kegiatan itu dan pulang malam. Pertama, orangtua tidak terima, tapi karena kami membuat contoh yang bagus, mereka mau menyuruh kami ke gereja.”(paul c pati)

IMG_8119

IMG_8151

IMG_8116

Tinggalkan Pesan