Seorang pendorong obat terlarang terbaring di tanah setelah dia ditembak mati setelah sebuah operasi polisi di daerah kumuh di Navotas City, 17 Agustus 2017. VINCENT GO
Seorang yang diduga pengedar narkoba terbaring di tanah setelah ditembak mati dalam operasi polisi di daerah kumuh di Navotas City, 17 Agustus 2017. VINCENT GO

Para uskup Katolik mengungkapkan keprihatinan serius atas kampanye intensif pemerintahan Duterte yang menyebabkan setidaknya 81 orang tewas dalam empat hari, 32 di antaranya akibat serangan polisi secara simultan di Provinsi Bulacan di hari Selasa, 15 Agustus 2017. Jumlah korban tewas hari itu adalah yang tertinggi dalam perang pemerintah melawan obat-obatan terlarang.

Uskup Malolos Mgr Jose Oliveros mengatakan, mereka khawatir dengan meningkatnya jumlah pembunuhan terkait narkoba di Keuskupan Malolos karena sebagian besar pembunuhan itu terjadi ‘di luar hukum’. Prelatus itu juga mempertanyakan apa motif polisi atas pembunuhan-pembunuhan yang semua terjadi dalam satu hari.

“Kami tidak tahu motivasi polisi mengapa mereka harus melakukan pembunuhan dalam satu hari, mungkin untuk memberikan kesan kepada Presiden yang menginginkan lebih banyak,” kata uskup itu.

Puluhan lebih orang yang diduga pengedar narkoba dan penjahat kecil terbunuh di berbagai bagian Metro Manila beberapa hari berikutnya. Sedikitnya 28 orang yang diduga pelaku narkoba dan pengguna narkoba tewas di hari Rabu, 16 Agustus 2017, di Manila karena dilaporkan melawan petugas polisi.

Di hari yang sama di kota Caloocan, Kian Loyd Delos Santos, siswa kelas 11, dibunuh karena diduga baku tembak dengan polisi.

Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David kembali menyesalkan pembunuhan terus-menerus terhadap pelaku narkoba. Selama masa kediktatoran, kata uskup itu, “komunis” adalah “label dan pembenaran yang pantas” untuk diculik dan dibunuh. “Sekarang, ‘para tersangka narkoba’. Saya tidak tahu hukum apa dalam masyarakat beradab mana yang mengatakan seseorang layak mati karena dia “tersangka narkoba,” kata Uskup David.

Wakil Presiden baru dari Konferensi Waligereja Filipina juga memberikan peringatan terhadap mereka yang mendukung pembunuhan terhadap tersangka penjahat. “Mungkin Anda akan terkejut saat menemukan nama Anda dalam daftar akhir-akhir ini. Siapa pun bisa terdaftar sebagai ‘tersangka narkoba’,” kata Uskup David.

Keuskupan Malolos telah menjalankan pusat rehabilitasi narkoba sejak tahun 1990. Daripada membunuh tersangka, Mgr Jose Oliveros meminta pemerintah untuk fokus merehabilitasi mereka. “Saya berharap pemerintah memprioritaskan program rehabilitasi dan memperlakukan kecanduan narkoba lebih sebagai penyakit daripada kejahatan,” kata uskup itu. (CBCPNews)

Tinggalkan Pesan