Frater Albertus Arif SMM ketika menerima Kaul Kekal. Selasa, 15 Agustus 2017 (6)

“Dunia begitu kejam menggoda kaul-kaul dan imamat dari setiap orang yang terpanggil secara khusus ini. Godaan-godaan itu mengajak dan ingin mengeluarkan kita dari biara supaya kita keluar, kawin, dan hidup sebagai umat awam lainnya di luar sana. Saya mengingatkan supaya kita yang masih berada di dalam biara mana pun, supaya selalu hati-hati akan kekejaman dan godaan-godaan dunia. Dunia tidak mengenal kita sebagai imam, bruder, suster, frater, dan uskup. Kalau tidak kuat, kita akan keluar dan kawin untuk memperbanyak keturunan.”

Provinsial Serikat Maria Montfortan (SMM) Indonesia Pastor Kasimirus Jumat SMM berbicara dalam homili Misa Kaul Kekal Frater Albertus Arif SMM di Kapela Seminari Tinggi Santo Montfortan di Joyogrand, Malang, 15 Agustus 2017. Misa itu dihadiri umat Katolik, keluarga dari Frater Arif, para tamu dan undangan, serta biarawan-biarawati dari berbagai tarekat religius di wilayah Keuskupan Malang.

“Frater Albertus Arif SMM harus ingat bahwa dari angkatan kalian yang berjumlah 14 orang itu, hanya Anda sendiri yang masih bertahan dan sampai menerima kaul kekal untuk dilanjutkan dalam tahbisan imamat nanti,” tegas Pastor Kasimirus Jumat SMM.

Teman-teman seangkatan lainnya sudah keluar dan memilih kawin. “Mereka tidak bisa tahan godaan, karena godaan duniawi begitu menggiurkan dan merangsang kita untuk keluar atau bertahan. Hanya itu saja pilihannya. Bertahan di dalam biara, ada resiko dan tantangannya. Dan keluar dari biara pun, tetap ada resiko dan tantangannya. Tentukan pilihanmu, sebelum terlambat,” lanjut imam itu.

Namun, ketika provinsial memanggil namanya, Frater Albertus Arif SMM maju ke depan menghadap provinsial itu lalu mengucapkan janji dan sumpah setianya. Kemudian frater itu menelungkup di lantai di depan altar.

“Niat saya untuk menjadi imam tumbuh ketika masih berada di bangku Sekolah Dasar dan sempat menghilang sewaktu di SMA. Tetapi berkat doa dan dukungan kedua orangtua, niat suci itu kembali terang benderang. Saya memilih tarekat SMM, karena saya sungguh mencintai cara hidup dan keteladanan Santo Montfort sebagai orang kudus yang mendirikan SMM,” kata Frater Albertus Arif kepada PEN@ Katolik saat makan sesudah Misa.

Leonardus, seorang umat yang hadir dalam Misa itu mengatakan bahwa memang tidak mudah menjadi imam, suster, bruder, frater dan uskup di zaman sekarang ini, “karena begitu banyaknya tantangan dan godaan yang membuat mereka akhirnya lupa diri, dan terjatuh ke dalam hal-hal duniawi yang berujung pada meninggalkan panggilannya.” (Felixianus Ali)

Frater Albertus Arif SMM didampingi orangtuanya
Frater Albertus Arif SMM didampingi orangtuanya

Frater Albertus Arif SMM ketika menerima Kaul Kekal. Selasa, 15 Agustus 2017 (1)

Frater Albertus Arif SMM ketika menerima Kaul Kekal. Selasa, 15 Agustus 2017 (7)

Frater Albertus Arif SMM ketika menerima Kaul Kekal. Selasa, 15 Agustus 2017 (4)

4 KOMENTAR

  1. Saya salah satu dari 13 orang yg keluar dari SMM, satu angkatan dengan Diakon Arif, SMM. Kami sebagai sahabatnya dan sekaligus mantan SMM tentu sangat bangga akhirnya salah satu dari kami “dipilih” utk berkaul kekal. Pilihan ini tentu juga tidak lepas dari usaha dan keteguhan beliau dalam panggilan hidup membiara, sekaligus yg tentu tidak dapat disangkali adalah Kehendak Allah atas hidupnya. Terimakasih kepada media ini yang telah memuat berita ini. Tetapi sebagai salah satu dari antara 14 orang yg dimaksud pemberitaan ini saya sangat tidak setuju dengan pernyataan redaksi pada paragraf ke empat, kalimat pertama; “Teman-teman seangkatan lainnya sudah keluar dan memilih kawin.” Tidak semua dari kami telah menikah. Puji Tuhan, saya sendiri, sejak meninggalkan hidup membiara dua tahun yang lalu masih tetap bisa menjaga kemurnian saya. Dan alasan setiap kami keluar dari biara belum tentu pertama-tama adalah ingin kawin. Mohon maaf; saya sebagai pribadi di satu sisi sangat senang dan bangga akan pemberitaan ini dan satu sisi merasa tidak nyaman dengan pemberitaan Anda. Mohon untuk dipertimbangkan. Terimakasih.

    Salam hormat.

    • Suatu langkah besar setiap pribadi yg menanggapi panggilanNya. Dan panggilan itu sdri adlh misteri…
      Sy meyakini.. Cara yg di pakai Tuhan untuk membentuk.pribadi msg” org berbeda dg cara yg kdg tak bisa bgtu saja kita pahami. Saat di seminari…mgkn Tuhan sdg mempersiapkan msg” seminaris u jd apa ntinya kita tak pernah tahu… Semua murni krn kehendakNya…yg keluar u tidak melanjutkan pun ada bermacam” sebab… Sebaiknya jgn di ” gebyah uyah” ( pepatah jawa, di samakan) semua atas kehendakNya. Yg keluar ttp bisa melayani Tuhan sesuai panggilan hidupnya. Ttp semangat. Profisiat u fr.arif. salam u sdr. Elfridus silman. Tetap menjadi garam dan terang… Berkah Dalem

  2. Kejam tidaknya dunia, bukan salahnya dunia. Ini soal perspektif spiritual anda saja. Klo pandangan hitam putih platonis, tentu saja dgn dangkal mengatakan dunia yg kejam. Semua kita masih di dunia. Jangan adili dunia dr perspektif suci dan tidak suci. Tapi lihat diri sendiri. Format kita.
    Dunia yg kita cap kejam, justru hasil kreasi kita sendiri juga. Dan, kita menikmatinya sambil menutup mata. Karena kita bagian tak terpisahkan darinya. Berbagai kasus dalam bungkusan jubah putih kebesaran menjadi momentum refleksi kritis – auto kritik atas format yg sudah lama basi dlm kehidupan komunitas gereja universal ini.

  3. “..Dunia begitu kejam menggoda kaul-kaul dan imamat dari setiap orang yang terpanggil secara khusus ini. Godaan-godaan itu mengajak dan ingin mengeluarkan kita dari biara supaya kita keluar, kawin, dan hidup sebagai umat awam lainnya di luar sana. Saya mengingatkan supaya kita yang masih berada di dalam biara mana pun, supaya selalu hati-hati akan kekejaman dan godaan-godaan dunia…”

    Homili ini tidak mendidik umat secara benar. Apa sih hakekat panggilan itu? Sebatas usaha manusia, gagal jadi imam juga karena semata godaan dunia yang dianggap kejam? Perkuatlah motivasi panggilan Anda, murnikan panggilan anda dan dengarkan suara Tuhan yang memanggil, yang mencintai Anda dan cintailah panggilan anda, isi dengan pikiran2 dan karya2 positif..dunia tidak kejam dan jahat. Dan tahbisan tidak membuat anda jadi malaikat suci lalu dunia dianggap jahat. Anda berasal dari dunia dan ada di dunia sepanjang hidup panggilan anda… dunia yang Tuhan ciptakan baik adanya. Berbuatlah kebaikan untuk manusia dan dunia dan sesama..Sekali lagi, kembali murnikan motivasi panggilan, bahagialah menjalani pilihan panggilan imamatmu, dan jsdikan dunia sebagai ladang pelayananmu.

Tinggalkan Pesan