foto difabel fransiskus safer (1)

Hasil daur ulang sampah yang dilakukan para difabel dari Bank Sampah Flores (BSF) Maumere, Flores, NTT, berupa piring dan keranjang dari bekas minuman ale-ale, sedotan bambu, tempat laundry, tas-tas dari kain bekas sarung, dan dompet dari kemasan mie instan dibeli oleh wisatawan dari 17 negara yang mengunjungi kota Maumere.

Direktris Bank Sampah Flores Susilowati Koopman (Susi) yang didampingi sekretaris BSF Fransiskus Saverius (Saver) mengungkapkan hal itu kepada PEN@ Katolik di Pantai Paris Lokaria Maumere, 6 Agustus 2017.

Susi mengatakan, jika wisatawan datang ke Maumere dan pulang membawa souvenir berupa sarung tenun ikat, itu biasa. Namun, kalau mereka “membeli hasil kerajinan yang dibuat para difabel dari hasil daur ulang sampah, itu sungguh men-support kami, itu bentuk penghargaan luar biasa dari wisatawan.”

Para wisatawan, lanjut Susi, “sempat heran, koq para difabel dengan keterbatasan khusus masih mampu mengelola sampah?!”

Menurut Saver, difabel yang sudah 7 tahun hidup di atas roda, berterimakasih karena orang luar negeri atau wisatawan menghargai produk para difabel dari daur ulang sampah. “Ternyata hasil karya kami, orang yang selalu dipandang sebelah mata dan terpinggirkan, dihargai,” kata Saver.

Walau dipandang sebelah mata dan minus perhatian dari pemerintah, lanjut Saver, “dengan kemampuan yang kami miliki, kami akan terus bergelut dengan sampah demi menjaga lingkungan hidup demi keselamatan hidup anak cucu kelak.”

Para wisatawan yang membeli produk daur ulang sampah para difabel BSF itu datang dari Inggris, Belanda, Spanyol, Afrika Selatan, Perancis, Jerman, Polandia, Polandia, Selandia Baru, Swiss, Lithuania, Cina, Singapura, Korea, Israel, Brasil dan Swedia. (Yuven Fernandez)

kerajinan difabel BSF 1 (1)

Tinggalkan Pesan