Yesus mengajarkan kita menjadi anak kecil

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga (P)-dirayakan pada Minggu, 13 Agustus

PEKAN BIASA XIX (H)
Santo Tarsisius

Bacaan I: Ul. 31:1-8
Mazmur: Ul. 32:3-4a.7.8.9.12; R:9a
Bacaan Injil: Mat. 18:1-5.10.12-14

Sekali peristiwa datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Perjalanan panjang bangsa Israel di padang gurun menghantar Musa semakin berusia lanjut dan tidak mampu lagi memimpin bangsa itu. Apalagi, Allah tak mengizinkan Musa memasuki tanah terjanji karena ia pernah meragukan Allah. Maka, saatnyalah tongkat kepemimpinan itu harus diserahkan kepada Yosua, orang pilihan itu. Musa membesarkan hati Yosua dan bangsa itu untuk masuk tanah Kanaan. Kata-katanya meneguhkan mereka.

Bercermin pada ajaran Yesus dalam Injil, bukan soal usia dan kehebatan yang dibutuhkan Allah, tetapi kerendahan hati dan sikap sebagai seorang anak. Sikap seorang anak, yang merasa tenang dalam pelukan orang tuanya, adalah sikap dasar untuk masuk dalam kerajaan Allah. Sikap seperti itulah yang juga diminta dari kita untuk masuk Tanah Terjanji, untuk menikmati kebahagiaan sejati.

Ya Allah, enyahkanlah dari hatiku kesombongan diri dan berilah aku kepercayaan penuh kepada bimbingan-Mu dalam perjalanan hidupku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Tinggalkan Pesan