pernyataan 1

“Kami, peserta Asian Youth Day (AYD) ke-7 yang diselenggarakan di Yogyakarta, Indonesia, dari 2-6 Agustus 2017, adalah Generasi Millennials. Kami menghadapi masalah dan tantangan dalam menjalani iman Katolik dan kami hidup dalam era globalisasi yang berdampak pada kehidupan kami. Kemajuan teknologi yang cepat meningkatkan konsumerisme, kecanduan, dan kehilangan identitas kami sendiri karena budaya yang semakin memudar. Kami tidak bisa menghindari modernisasi. Beberapa di antara kami mungkin kurang yakin dalam menjalankan imannya. Karena tekanan yang timbul dari intoleransi dan perasaan tertinggal, kami tidak memiliki keintiman dengan Tuhan dan ciptaan-Nya. Kami merasa tidak memiliki cukup dukungan dari berbagai sektor masyarakat. Karena itu, sebagai kaum muda Katolik Asia, kami membutuhkan kesempatan dan ruang untuk didengarkan dan diperhatikan.”

Itulah alinea pertama dari Pernyataan AYD ke-7 yang dibacakan bergantian oleh Michaela Ruth Gallardo dari Hongkong dan Freddie Rodrigues dari Timor Leste di saat penutupan AYD ke-7 yang dilaksanakan di Lapangan Dirgantara milik Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, 6 Agustus 2017.

Pembacaan itu dilaksanakan di depan panggung utama upacara yang dihadiri Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, 44 uskup, 6 kardinal, 264 imam, dan 23.000 orang, termasuk 2140 peserta AYD, 942 di antaranya berasal dari 21 negara Asia lainnya.

AYD ke-7 ditutup dengan Misa yang dipimpin Ketua Federasi Konferensi-Konferensi  Waligereja Asia Oswald Kardinal Gracias diiringi lagu oleh paduan suara dengan 679 anggota, dan 76 musisi termasuk pemain gamelan. Penutupan formal dilakukan oleh Jusuf Kalla dengan pemukulan gong.

Meski menghadapi berbagai tantangan, lanjut pernyataan akhir itu, peserta AYD ke-7 memiliki kemampuan untuk mengatasinya. “Kualitas ini memainkan peran penting bagi kelangsungan iman Katolik. Sebagai kaum muda, kami diberdayakan oleh Roh Kudus yang memberi kami energi dan api guna menyebarkan Injil di dunia multikultural ini. Kami adalah frontliner. Kami dipersenjatai dengan bakat, keberanian, belas kasih dan tekad. Kualitas ini adalah aset yang dibutuhkan masyarakat untuk merespon tantangan yang dihadapi dunia.”

Juga dikatakan, dalam AYD ke-7 hasrat diri mereka terbakar dan mereka “ingin mempengaruhi dunia, dan menandainya sendiri.” Mereka melihat cara hidup masyarakat yang berbicara dalam bahasa berbeda dan yang mempraktikkan agama berbeda, terutama di saat-saat mereka hidup bersama dengan lebih dari seratus kaum muda Muslim. “Pertemuan multikultural ini membantu kami melihat iman kami dengan terang baru. Ini mengipasi nyala api hasrat kami. Kami berharap melalui Roh Kudus kami bisa membakar dunia.”

Namun, mereka menyadari, kalau nyala api yang sama tidak dipandu bisa menjadi tidak terkendali dan merugikan orang lain. “Maka, perlulah bantuan dalam menyempurnakan keterampilan kami dan menerapkannya dengan baik.”

Paus Fransiskus pernah mengatakan, “Orang-orang muda terkasih, jangan mengubur talenta kalian, karunia yang Tuhan berikan kepada kalian. Jangan takut memimpikan hal-hal besar.” Mereka menanggapi pernyataan itu dengan mengatakan, “Cinta kami akan kehidupan dan pengetahuan bisa menghasilkan hal-hal besar, tapi itu harus berakar pada iman kami dan pada Roh Allah, karena itu benar-benar berdampak positif pada dunia.”

Mereka mengakui bahwa selama AYD ke-7, mereka merasakan pentingnya komunitas, terutama saat kaum muda mencoba menjalani kehidupan Katolik. “Kami semua orang muda, yang penuh sukacita. Untuk menjalani hidup penuh sukacita, kami tidak bisa melakukannya sendiri. Dengan Kristus di dalam hati kami dan komunitas yang mendukung kami, terutama di saat kami ditantang, kami akan lebih yakin dan kuat dalam iman.”

Kaum muda membutuhkan persekutuan, tegas mereka. “Yesus sendiri membagikan sumber dan puncak iman kita dengan makan bersama. Komunitas yang andal akan memperkuat dan mempersatukan kami dalam iman kami, dan karenanya, semakin dekat dengan Tuhan,” dan di saat pulang, “kami dapat mengilhami keluarga dan teman kami untuk ikut bersama kami dalam perjalanan kami dan mengalami Injil. Kami ingin mengenal Tuhan dengan bantuan relasi dan berbagai aktivitas kami seperti mempelajari Kitab Suci, menghadiri Misa dan melayani komunitas.”

Juga ditulis bahwa di Asia yang multikultural ini, tempat mereka tinggal di tengah berbagai agama, bahasa, etnis dan adat istiadat, penting bagi mereka untuk keluar dari zona nyaman dan menjangkau orang yang berbeda dari mereka. “Yesus mengajarkan kami untuk mencintai tanpa syarat. Kami ingin memberi kesaksian tentang Semangat Kasih yang sama yang Dia tunjukkan kepada kami. Ini termasuk peduli kepada rumah kita bersama sesuai tantangan Laudato Si’. Kami akan berkomunikasi dengan orang lain dengan pergi menemui mereka di tempat mereka berada, dan berusaha memahami lebih dalam tentang budaya mereka. Kami akan bertindak sebagai fasilitator dan animator persatuan, seraya menciptakan jembatan untuk mencintai dan menghargai budaya berbeda itu.”

Pernyataan itu melanjutkan, karena teknologi dan media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan mereka sebagai orang muda, “kami akan menggunakan sarana ini secara bertanggung jawab dengan menyebarkan yang positif dan kebaikan bukan yang negatif dan kebencian, membagikan firman Tuhan, dan mengilhami orang lain. Dengan begitu, kami bisa menjaga agar nyala api di dalam diri kami tetap hidup, dan menerangi hati orang-orang di sekitar kami.”

Pernyataan itu ditutup dengan kalimat: “Tuhan adalah sukacita dan pengharapan kami. Kami tahu bahwa melalui kasih karunia-Nya, kami dapat mengilhami orang lain dengan menjalani sukacita Injil dalam masyarakat kami yang beragam dan selalu berubah demi menciptakan dunia kasih, kerukunan, dan kesatuan laksana misionaris-misionaris sukacita.”(paul c pati)

Pernyataan 3

pernyataan 4

pernyataan 5

Pernyataan 6pernyataan 8

Tinggalkan Pesan