IMG_4865

Taman Rohani Anggrung Gondok (Taro Anggro) yang terletak di Dusun Anggrung Gondok, Reca, Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah, telah berusia 7 tahun.  Ulang tahunnya ditetapkan Sabtu-Minggu sesudah hari Hati Kudus Yesus, 1 Juni.  Namun karena beberapa hal tahun ini perayaan ulang tahunnya dilakukan 14-15 Juli 2017.

Bukan itu saja, karena ada seorang yang meninggal dunia, kegiatan drum band dan pergelaran kesenian tradisional lokal, yang seharusnya ditayangkan sesudah Misa pembukaan yang dihadiri umat setempat dan umat dari kota lain, tiba-tiba dibatalkan.

Pastor Stevanus Sumpono MSC, yang berkarya di tempat itu mengatakan, pembatalan pentas kesenian itu dilakukan dalam rangka membangun sikap empati pada keluarga yang berduka. “Kami membatalkan pentas seni, karena ada yang berduka. Kami bela rasa dengan yang berduka. Kami terlibat dengan orang-orang yang berduka. Itu tradisi di sini,” kata imam itu.

Namun, kegiatan bazar produk pertanian tetap berjalan selama dua hari itu. Para petani dan masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Rahayu Lereng Sindoro menggelar produk-produk pertanian mereka. Mereka menjual produk-produk bibit tanaman, pangan organik, pupuk organik maupun pestisida organik.

Di hari pertama, panitia menggelar sarasehan dan kenduri yang dihadiri warga sekitar. Sarasehan sore itu mengangkat tema ekologi dan narasumbernya, Sugiyat, menyampaikan pentingnya merawat lingkungan hidup.

“Menjaga lingkungan bukan hanya semata-mata perintah undang-undang, tapi perintah Tuhan,” kata Sugiyat seraya mengajak warga agar memastikan bahwa lingkungan tidak sampai rusak dan kalau sudah terlanjur rusak, lingkungan harus diperbaiki bersama.

“Tuhan memerintahkan kita untuk menjaga lingkungan alam, demikian juga Tuhan memerintahkan kita untuk saling menjaga dan menghormati sesama manusia,” katanya. Dalam perbedaan, lanjutnya, sesama manusia diundang untuk saling menghormati.

Sarasehan itu dilanjutkan dengan kenduri yang diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang. “Mereka terlibat dengan tulus,” kata Pastor Sumpono seraya mengapresiasi masyarakat yang selalu menghidupi kearifan lokal. Dalam acara itu, lanjut imam itu, “Ada kegembiraan, ada kebersamaan, ada persaudaraan.”

Pastor Sumpono, yang  selama ini bersama masyarakat setempat mengembangkan pertanian organik demi ketersediaan pangan yang sehat, berharap agar persaudaraan itu semakin berkembang dengan baik.

Peletakan batu pertama taman rohani seluas 1.400 meter persegi di wilayah Paroki Santo Philipus Kapencar, Wonosobo Timur,  itu dilaksanakan 8 Desember 2008. Pembangunannya dipimpin oleh Pastor Sumpono. Setahun kemudian Taro Anggro dilengkapi Jalan Salib dan Gua Maria bernama Santa Petronela, lalu dibangun lagi taman adorasi bernama “Taman Rohani Hati Kudus.” Ide pembangunan taman itu datang dari konfraternya Pastor Engelbertus Untung Susanto MSC (alm).(Lukas Awi Tristanto)

IMG_4828

ist
ist
Ist
Ist
Ist
Ist

IMG_4830

Tinggalkan Pesan