Srawung (3)

Gerak tarian Papua penuh hentakan dalam sebuah drama tari seakan menggambarkan semangat orang muda yang menghentak dalam menyuarakan perdamaian dan kerukunan di Yogyakarta, seirama teriakan yel tanpa ragu dari para pengunjung ‘Bukan Aku, tetapi Indonesia,’ yang juga merupakan tema acara itu.

Suasana itu merupakan beberapa penggalan Srawung Kaum Muda Anak Bangsa yang dihelat di Plaza Pasar Ngasem Yogyakarta, 23 Juli 2017. Sejumlah pertunjukan seni yang menggambarkan keberagaman Indonesia digelar malam itu. Tarian khas Dayak, Manggarai, Jawa, dan permainan Kecapi Sunda mewarnai acara malam itu. Tarian Sufi atau yang selama ini dikenal dengan tarian cinta turut memperkaya acara yang juga disemarakkan oleh anak-anak muda dari berbagai kelompok musik dengan gaya anak mudanya.

Ketua Panitia Srawung Kaum Muda Anak Bangsa Yunan Helmi mengatakan melalui sambutannya bahwa acara malam itu bukan hanya sekadar even tapi keajaiban luar biasa, “karena banyak tokoh dari berbagai agama turut membuat sukses acara itu.”

Toleransi, lanjut Yunan Helmi, bukanlah mengimani keimanan orang lain, tapi “sejatinya adalah ikhlas bagi manusia memberikan hak yang sama kepada sesama umat, kepada sesama manusia untuk mengimani apa yang dia percaya. Sedangkan sejatinya keimanan masing-masing dari kita tetap utuh tapi tetap menghormati apa yang saudara-saudara kita lakukan sebangsa, setanah air imani.”

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) dan Komisi HAK Kevikepan DIY, Forum Jogja Damai (FJD), Srikandi Lintas Iman (Srili), Orang Muda Katolik dan kaum muda dari berbagai agama di kota Yogyakarta ini dihadiri sekurang-kurangnya 1000 orang. Bahkan sejumlah turis asing turut menikmati acara itu.

Ketua Komisi HAK KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menyatakan apresiasinya  pada kaum muda lintas agama yang terlibat, karena dalam waktu singkat merespon acara itu dengan antusiasme yang luar biasa.

Pemutaran dan peluncuran video klip “Damai dalam Cinta” ciptaan Yunan Helmi juga dilakukan oleh para pemuka lintas agama, yakni Bib Muhammad Chirzin (Islam, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Ketua FKUB Yogyakarta), Pendeta Indrianto (Kristen, Koordinator Yakoma Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Yogyakarta), Pastor Aloys Budi Purnomo Pr (Katolik), Bagus Kusuma dan I Nyoman Santiawan (Hindu), Toto Tejamano (Buddha, ketua Pemuda Buddha Yogyakarta), Cucu Rohyana (Konghucu), dan Ki Demang (Sunda Wiwitan).

Panitia juga melakukan pemutaran dan peluncuran video klip “Pesan Damai” dan “Pancasila adalah Kita” yang dinyanyikan oleh anak-anak muda lintas agama di kota Yogyakarta.

Pendeta Indrianto menyatakan rasa syukurnya. “Saya menganggapnya sebagai anugerah Tuhan, karena saya menemukan, di tengah situasi sosial politik yang penuh carut marut prasangka kebencian antar etnis, antarumat beragama terkhusus karena provokasi kelompok tertentu, anak-anak muda yang berbeda agama, berbeda keyakinan, tapi begitu menggugah hati dengan kasih.”

I Nyoman Santiawan berharap, usai acara itu masing-masing bisa tetap menjalin hubungan dan  berbagi cinta kasih. “Cinta kasih memang gampang diucapkan tetapi sulit kita lakukan. Oleh karena itu, sesuai tema “Bukan Aku, tetapi Indonesia”, begitu kita bicara kita semua anak bangsa harus saling menghormati, harus saling mencintai dan berbagi kasih sayang agar kita bisa ikut membangun bangsa ini dengan cinta kasih,” katanya.

Sedangkan Toto Tejamano mengatakan, semua memang berbeda. “Kita tidak perlu menyama-nyamakan yang berbeda,” kata dalam acara Srawung Anak Bangsa yang ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para tokoh agama.(Lukas Awi Tristanto)

 Srawung (5)

Srawung

Srawung (1)Srawung (4)

Srawung (2)

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan