Sower

PEKAN BIASA XVI (H)

Santo Nasarius dan Selsus; Santo Viktor dan Innosensius

Bacaan I: Kel. 20:1-17
Mazmur: 19:8.9.10.11; R: Yoh. 6:64
Bacaan Injil: Mat. 13:18-23

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah arti perumpamaan tentang penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Renungan

Kesepuluh perintah Allah disampaikan dalam rumusan yang jelas dan kebanyakan adalah berupa larangan langsung yang seharusnya mudah dipahami bangsa Israel (bdk. Kel. 20:3-17), tetapi kita tahu kemudian bahwa perintah yang begitu jelas pun masih dilanggar berulang kali. Ketika menafsirkan arti perumpamaan tentang penabur, Yesus berkali-kali menekankan kesesuaian yang harus terjadi antara ’mendengar’ dan ’mengerti’ (bdk. Mat. 13:18-23). Orang bisa saja mendengar, tetapi tidak mengerti; atau mengerti juga, tetapi tidak bertahan lama karena pengaruh penganiayaan, kekhawatiran dunia, dan tipu daya. Mendengarkan saja tidak cukup. Mengerti pun harus disertai dengan kesetiaan untuk bertahan di dalam pengertian itu hingga pada waktunya dapat berbuah berkali lipat.

Dunia pendidikan kita adalah contoh yang baik untuk melukiskan kesetiaan untuk mengerti. Segera setelah menjalani ujian, para pelajar sering sudah ’lupa’ akan semua yang dipelajari selama ini. Pengertian kita akan ajaran Kristus pun tidak selalu diikuti dengan kesetiaan untuk melakukan dan bertahan dalam pengertian itu, sehingga buah sukacitanya tidak ditemukan dalam perbuatan kita. Kita seharusnya jangan cepat menyerah di depan kekhawatiran dan kegagalan.

Tuhan, Engkau mengharapkan kesetiaan para pengikut-Mu untuk bertahan dalam pelaksanaan sabda-Mu. Semoga aku dapat diandalkan sebagai murid-Mu yang mengerti dan melakukan perintah-Mu dengan sukacita. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan