Permintaan-ibu-Yakobus-dan-Yohanes

PEKAN BIASA XVI 

Pesta Santo Yakobus, Rasul (M)

Bacaan I: 2Kor. 4:7-15

Mazmur: 126:1-2ab.2c-3.4-5.6; R: 5

Bacaan Injil: Mat. 20:20-28

Sekali peristiwa, menjelang kepergianYesus ke Yerusalem, datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: ”Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: ”Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan

“Bejana tanah liat” (bdk. 2Kor. 4:7) adalah gambaran yang sangat tepat bagi sosok manusia beriman, supaya senantiasa menyadari berbagai kelemahan yang masih melekat pada dirinya kendati sudah berjanji setia kepada Kristus. Kelemahan itu juga masih ada dalam diri Yakobus rasul yang kita rayakan pestanya hari ini. Ketika menanggapi permintaan ibu Yakobus soal posisi bagi anak-anaknya di Kerajaan Allah, Yesus mengingatkan, ”Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:26-27). Iman dan kesetiaan pada Kristus berarti menempatkan diri di hadapan sesama sebagai pelayan. Artinya, seorang pengikut Kristus harus melepaskan ambisi pribadi dan kelekatan-kelekatan duniawi yang hanya akan menghalangi semangat kasih dalam pelayanan kepada sesama.

Ada yang mengatakan bahwa ambisi itu penting dalam perjuangan hidup di dunia. Tanpa ambisi, orang akan sulit bertahan dalam iklim yang mengutamakan prestasi. Akan tetapi, kita juga tahu bahwa ambisi kita sering diarahkan pada kepentingan pribadi, sedangkan semangat Kristus adalah pelayanan demi keselamatan banyak orang. Itu sebabnya, kita perlu berhati-hati dengan keinginan pribadi yang hendak kita paksakan dalam kebersamaan iman dengan orang lain.

Yesus Kristus, Tuhanku, Engkau memberikan diri-Mu sebagai sumber kekuatan bagiku dalam menjalani kehidupan. Semoga aku berani mengikuti teladan-Mu dan melayani orang lain, khususnya ketika aku dipercaya untuk menjadi pemimpin. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan