yunus-1

MINGGU BIASA XVI

Sharbel Mkhluf, Niceforus, Yohanes Soret, Lusia dari Savoyen

Bacaan I: Kel. 14:5-18

Mazmur: Kel. 15:1-2,3-4,5-6

Bacaan Injil: Mat. 12:38-42
warna liturgi Hijau

 

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

Renungan

Karena ketakutan melihat tentara Mesir yang mengejar, orang Israel mempertanyakan keputusan Musa membebaskan mereka dari penindasan. Akan tetapi, Tuhan justru menggunakan situasi itu untuk menampakkan kekuasaan-Nya melalui tangan Musa (bdk. Kel.14:16-18). Di masa yang berbeda, ketika menanggapi permintaan ahli Taurat dan orang Farisi akan tanda, Yesus menegur kekerasan hati mereka, padahal Ia yang hadir di antara mereka itu lebih daripada Yunus maupun Salomo (bdk. Mat. 12:41-42). Iman seseorang akan tercermin dalam reaksinya ketika mengalami situasi yang sulit atau berada dalam keraguan atas keputusannya sendiri. Seharusnya reaksi seseorang yang sungguh-sungguh beriman adalah mempercayakan hidupnya hanya kepada Tuhan dan berani berubah setelah mengalami peristiwa rahmat. Adalah mengeherankan bahwa pengalaman diselamatkan dari penindasan tidak serta-merta membuat manusia lelbih percaya pada peran Tuhan dalam hidupnya.

Berapa banyak tanda lagi yang masih kita perlukan? Hingga kini masih ada orang Kristiani yang ‘menuntut’ rahmat dan jawaban atas doanya kepada Tuhan sebagai syarat bahwa kalau itu didapatkan, ia akan tetap setia dalam imannya. Tuhan tidak dapat kita ‘atur’. Yang seharusnya kita atur adalah reaksi kita sendiri supaya jangan sampai menyia-nyiakan seluruh pengalaman iman yang sudah membentuk kehidupan kita.

Tuhan Yesus Kristus, kuasa-Mu selalu melampaui berbagai ketakutan dan keraguanku. Semoga aku lebih peka melihat tanda-tanda kehadiran dan tindakan-Mu dalam berbagai peristiwa kehidupan. Amin.

 

Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan