DSCN7160[1]

Saudara-Saudara Fransiskan muda diajak untuk selalu rendah hati dan melayani dengan penuh persaudaraan, karena semangat demikian merupakan semangat yang melekat dalam pribadi Santo Bonaventura, yang hidupnya selalu rendah hati, penuh perhatian dan taat kepada Yesus.

Demikian inti homili Wakil Provinsial (Sekretaris Jenderal OFM) Indonesia Pastor Mikhael Peruhe OFM dalam Misa Pengucapan Profesi Pertama sepuluh Fransiskan muda di Kapel Transitus Santo Bonaventura, Depok, pada Pesta Santo Bonaventura, 15 Juli 2017.

Uskup Terpilih Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, Kepala Paroki Santo Paulus Depok Pastor Gregorus Jandu OFM, dan Pastor Fransiskus Okky OFM menjadi konselebran Misa yang juga dihadiri keluarga para Fransiskan muda dan 400 umat Katolik dari Wilayah Santo Bonaventura dari Paroki Santo Paulus Depok.

Pastor Mikhael Peruhe mengawali homili dengan kisah  seorang pemuda yang meninggalkan keluarganya. “Setelah menjual seluruh harta, ia memilih hidup menyepi dan tinggal di sebuah gua yang jauh dari pemukiman. Ia ingin mencari Tuhan dalam keheningan. Ia berdoa terus-menerus dan mencari ketenangan hidup,” cerita imam itu.

Berhari-hari ia berada di tempat itu, lanjut cerita itu. “Ia hening sambil merefleksikan seluruh perjalanan hidupnya. Saat ia  hidup dalam kelimpahan harta, ia mendapat bisikan yang mengatakan bahwa ia harus segera keluar dari tempat itu dan pergi ke kota dan tinggal di keluarga seorang pembuat sepatu.”

Sang pemuda lalu melakukannya. “Ketika tiba di rumah pembuat sepatu itu, ia mendapat perlakukan sangat baik dari keluarga itu. Ia dilayani dan diberikan tumpangan. Setelah beberapa hari, ia kembali ke tempatnya semula.”

Tuhan lalu bertanya kepada pemuda dalam mimpi, ”Apa yang kamu rasakan dalam perjumpaan dengan keluarga tukang sepatu tersebut?” Dia pun menjawab, “keluarga itu sangat baik, sangat peduli, rendah hati dan penuh belas kasih,” jawab pemuda itu.

Menurut Pastor Mikhael Peruhe, kisah itu mirip dengan 10  novis yang mengucapkan kaul pertama saat Pesta Santo Bonaventura itu. Pengalaman perjumpaan dengan keluarga pembuat sepatu sebagai pengalaman menimba kebaikan hidup, yang boleh seorang Fransiskan muda dapatkan dalam meniti panggilan hidup, kata imam itu seraya menegaskan bahwa dia percaya “begitu banyak pengalaman dapat meneguhkan panggilan 10 Fransiskan muda itu.

Dalam Injil, semua orang yang memilih jalan mengikuti Yesus dipanggil jadi garam dan terang dunia. ”Kesepuluh Fransiskan muda ini adalah garam yang mempunyai sifat tidak egois, yang membuat makanan jadi enak, dan adalah sumber terang, yang secara merata menerangi lingkungan sekitar,” kata Pastor Mikhael Peruhe seraya berharap para Fransiskan muda meneladani Santo Bonaventura dan Santo Fransiskus Asisi yang penuh kesetiaan dan ketaatan mengikuti Yesus. (Konradus R Mangu)

 

Tinggalkan Pesan