matius-pemungut-cukai-mengikut-yesus

Pekan Biasa XIII (H)

Santo Odo, Abas; Beata Maria Romero Meneses, Perawan.

Bacaan I: Kej. 23:1-4.19; 24:1-8.62-67
Mazmur: 106:1-2.3-4a.4b-5; R:1a
Bacaan Injil: Mat. 9:9-13

Pada suatu hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: ”Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan

Bahkan ketika mencari calon istri bagi Ishak, anaknya, Abraham menunjukkan kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi yang pasti membimbing kepada pilihan yang tepat. Kesabaran itu membuahkan hasil ketika Ribka akhirnya bertemu dan menikah dengan Ishak (bdk. Kej. 24:67). Bagaimana Yesus memanggil Matius, pemungut cukai, dan makan bersama orang-orang berdosa menampakkan bahwa Allah mempunyai kebijaksanaan yang berbeda dari manusia. Yesus meminta orang mempelajari firman yang berbunyi, ”Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat. 9:13). Allah yang diperkenalkan Yesus tidak menuntut persembahan, melainkan pertama-tama belas kasihan. Sikap kasih kepada sesama lebih penting daripada kurban persembahan kepada Allah.

Kecenderungan makin kuat ke arah agama yang menekankan ritual bisa dirasakan di masyarakat kita. Akibatnya, penyelenggaraan ilahi jarang didengarkan untuk membimbing pengambilan sikap dan keputusan. Seharusnya setiap pilihan dalam kehidupan kita dan kepedulian terhadap orang-orang yang dikucilkan digerakkan oleh kebijaksanaan dan belas kasihan dari Tuhan, dan bukan oleh pertimbangan suka atau tidak suka.

Tuhan Yesus, semoga Roh Kebijaksanaan selalu berjalan bersamaku dalam mengambil setiap keputusan dan menentukan keterlibatanku dengan sesama, sehingga belas kasih-Mu dialami banyak orang yang kujumpai. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan